Fahrur berharap MBG ke depan bisa lebih baik dan higienis. Menurut dia, program tersebut bermanfaat untuk masyarakat, khususnya santri di pondok pesantren.
"Kita berharap agar MBG sebaik-baik dan lebih higienis, program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya para santri di pesantren," ujarnya.
BGN sebelumnya blak-blakan soal salah satu kecamatan di Sulawesi Utara (Sulut) yang menolak menerima makan bergizi gratis (MBG).
Alasannya, viral isu nampan (food tray) makanan yang diduga mengandung minyak babi.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan hal tersebut membuat sejumlah masyarakat Sulut meragukan kehalalan makan bergizi yang disalurkan pemerintah.
"Ada satu kecamatan di Sulawesi Utara itu yang tidak mau menerima makan bergizi karena viralnya tempat makan yang digunakan yang dianggap diragukan kehalalannya," ujarnya usai Penandatanganan Nota Kesepahaman Sinergi Penyelenggaraan Jaminan Produk Halal dalam Program Pemenuhan Gizi Nasional di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Senin (8/9).
Sementara, Dadan menjelaskan sebenarnya minyak tidak digunakan sebagai komponen food tray MBG.
Omprengan tersebut terbuat dari sejumlah jenis logam, termasuk nikel.
Minyak, kata Dadan, digunakan hanya dalam proses pencetakan food tray.
Namun, minyak-minyak itu dibilas setelah proses pencetakan dilakukan.
"Minyak itu digunakan pada saat stamping-stamping atau pencetakan yang digunakan pada alatnya supaya tidak panas dan mudah. Nah, kemudian setelah dicetak, minyak itu kemudian akan dibersihkan, direndam, dibersihkan sehingga steril begitu," jelasnya.
Sumber: CNN
Artikel Terkait
Illinois Langgar Aturan? Saat Negara Bagian AS Nakal Bergabung dengan WHO Sendirian
Bobon Santoso Pensiun! Akun YouTube 18 Juta Subscriber Dilepas Rp 20 Miliar, Ini Alasannya
Fakta Mengejutkan di Balik Bunuh Diri Siswa SD Ngada: Ini Kata Pemerintah Soal Isu Pengusiran
OTT KPK Jerat Wakil Ketua PN Depok: Ratusan Juta Suap, Kekayaan Rp 3,26 M, dan Profil Kontroversial