3. Makna Kerja yang Terabaikan
Bekerja bukan sekadar mencari uang. Bekerja adalah tentang eksistensi, jaringan, dan aktualisasi diri. Seperti dikemukakan filsuf Søren Kierkegaard, kerja adalah pengalaman praktis individu dalam merealisasikan eksistensinya. Meliburkan mereka paksa berarti memutus mata rantai sosial dan peluang yang mungkin muncul dari interaksi saat bekerja.
4. Jalan Pintas yang Tidak Berkelanjutan
Kebijakan ini mencerminkan kegagalan rekayasa lalu lintas dan manajemen transportasi. Alih-alih mencari solusi sistemik dan berkelanjutan, pemerintah memilih jalan pintas dengan mengorbankan kelompok pekerja kecil. Pola serupa terlihat dalam program seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersifat sesaat dan tidak mendorong produktivitas jangka panjang.
Solusi Jangka Panjang yang Diperlukan
Daripada mengambil kebijakan instan, pemerintah seharusnya fokus pada:
- Optimalisasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan desa yang terukur.
- Peningkatan skill dan SDM pekerja.
- Penyederhanaan birokrasi untuk mendukung UMKM dan investasi.
- Rekayasa lalu lintas yang cerdas dan berkelanjutan.
Pertanyaan besarnya: apakah kebijakan libur dan kompensasi ini akan menjadi preseden buruk dan diadopsi daerah lain setiap Lebaran? Jika iya, siap-siap melihat fenomena di mana orang justru ingin menjadi sopir angkot atau driver gojek hanya untuk mendapat "kompensasi liburan".
(Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)
Artikel Terkait
Impor 105.000 Mobil India vs Industri Lokal: Benarkah Kapasitas Produksi Kita Mencukupi?
Gaikindo Buka Suara: 105.000 Mobil India Akan Impor, Padahal Pabrik Lokal Nganggur?
Gaikindo Bongkar Rencana Impor 105.000 Mobil India: Kapasitas Dalam Negeri Mampu, Lalu Kenapa?
Impor 105.000 Mobil India Ditolak! Gaikindo Bongkar Fakta Kapasitas Pabrik Dalam Negeri yang Mencukupi