Pimpinan militer menyadari fenomena ini. Pada 1943, investigasi Amerika Serikat di Papua Nugini menemukan tentara Australia yang "bermain peran perempuan" dalam hubungan homoseksual. Markas Besar Angkatan Darat Australia kemudian memerintahkan laporan dan tindakan.
Hukuman resmi cukup berat:
- Sodomi (Pasal 41 Army Act): hukuman penjara seumur hidup.
- Perilaku memalukan (Pasal 18(5)): hingga 2 tahun penjara.
- Tindakan merusak disiplin (Pasal 40): hingga 2 tahun.
Salah satu contoh dramatis adalah upacara cashiering (pemecatan kehormatan): seorang perwira yang dihukum karena buggery diarak di hadapan pasukan, pangkatnya dicabut di depan umum, dan genderang dipukul. Korban sering pingsan karena malu.
Namun, dalam praktiknya, komandan lebih memilih pemecatan medis daripada pengadilan militer. Mayor Jenderal Sir Roy Burston merekomendasikan pemeriksaan psikiater bagi mereka yang "kecanduan praktik homoseksual". Jika terbukti, mereka dibebastugaskan tanpa hukuman pidana. Tujuannya menghindari publisitas dan mencegah prajurit sengaja "bermain homo" hanya untuk lolos dari tugas di daerah terpencil.
Dampak terhadap Moral dan Disiplin
Meski ada bullying terhadap pria effeminate (disebut "queen" atau "sissy"), banyak komandan melaporkan bahwa kasus homoseksualitas tidak terlalu mengganggu disiplin. Bahkan, subkultur ini kadang meningkatkan semangat karena memberikan hiburan dan keintiman di tengah kengerian perang. Novel The Rats in New Guinea karya Lawson Glassop menggambarkan ketakutan akan "queen" di satu seksi, tapi juga menunjukkan toleransi diam-diam selama tidak mengganggu tugas.
Relevansi Hari Ini
Artikel ini mengingatkan bahwa sejarah militer Australia bukanlah cerita hitam-putih tentang maskulinitas heteroseksual semata. Hasrat sesama jenis adalah bagian nyata dari pengalaman perang – baik sebagai sumber kesenangan, ketakutan, maupun strategi bertahan hidup. Di era modern, Angkatan Darat Australia telah berubah: mendukung jaringan LGBTI, ikut pawai Mardi Gras, dan mengakui identitas transgender di kalangan personel.
Mitos "tidak ada homo di Perang Dunia II" akhirnya runtuh berkat catatan-catatan pribadi dan arsip yang kini terbuka. Seperti kata seorang dokter veteran yang membalas surat Ruxton: homoseksualitas memang ada, meski dalam jumlah kecil, dan mereka juga berperang untuk negara.
Sumber utama artikel ini diolah dari penelitian yang dipublikasikan oleh Australian Army Research Centre dalam Australian Army Journal. Fenomena ini bukan hanya milik Australia; pola serupa ditemukan di banyak angkatan bersenjata sekutu saat itu. Perang tidak hanya membentuk pahlawan, tapi juga mengungkap keragaman manusia yang selama ini disembunyikan.
Artikel Terkait
Harga Pertalite Ternyata Lebih Mahal dari Pertamax? Ini Fakta di Balik Strategi Bisnis Pertamina
Viral! Video Guru Bahasa Inggris di TikTok Ternyata Settingan? Waspada Link Berbahaya!
Ammar Zoni Diborgol & Dipindahkan ke Nusakambangan! Ini Alasan di Balik Pengamanan Super Ketat
Vanessa Nabila Kembali Viral! Ikut Mangkunegaran Run 2026, Netizen Heboh