Roy mencatat bahwa Kalimantan Selatan telah merehabilitasi lahan kritis seluas 160 hektar melalui program Revolusi Hijau. Selain itu Kalimantan Selatan juga menunjukkan keseriusan di dalam perlindungan ekosistem lahan gambut yang rawan terbakar di musim kemarau. Terdapat pula Taman Hutan Tropis di Banjarbaru yang dapat dijadikan sebagai pusat studi sektor kehutanan serta percontohan bagi daerah lainnya.
Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Sutarto Hadi menambahkan peranan Forum Pimpinan Lembaga Perguruan Tinggi Kehutanan Indonesia (FOReTIKA) di dalam keberhasilan FOLU Net Sink kedepannya.
“Kami optimis dengan program pemerintah dalam perlindungan lingkungan dan pengendalian perubahan iklim ini. Kami mendorong para akademisi untuk melahirkan studi-studi kehutanan dan lingkungan hidup yang selaras dengan Rencana Operasional FOLU Net Sink, serta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjalankannya,” ujar Hadi.
Saat ini Kementerian LHK telah selesai melaksanakan sosialisasi Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 di tingkat Regional. Dalam waktu dekat akan ditindaklanjuti dengan sosialisasi Rencana Strategis dan Rencana Kerja secara mendetail pada tingkat sub nasional sebanyak 10 provinsi yaitu Aceh, Sumatra Barat, Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. Diharapkan semua proses sosialisasi dan penyusunan rencana kerja sub nasional terkait Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dapat terselesaikan sehingga dapat ditunjukkan kepada dunia pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 di bulan November 2022.
Sumber: suara.com
Artikel Terkait
Roy Suryo Cs Gugat KUHP & UU ITE ke MK: Dituduh Pencemaran Nama Baik Gara-Gara Teliti Ijazah Jokowi
Ijazah Jokowi Akhirnya Terbuka: Apa yang Ditemukan KPU dan Mengapa Bonatua Masih Penasaran?
Isi Surat Rahasia Ammar Zoni ke Prabowo: Grasi atau Rehabilitasi?
Hyundai Targetkan Jual 2000+ Unit di IIMS 2026, Ini Model Andalan untuk Mudik Lebaran