“Ini bukan hal yang sepele karena jumlah petani sawit ini jumlahnya sangat banyak. Jika mereka semua memutuskan untuk hadir berunjuk rasa di Jakarta maka tentu akan menimbulkan persoalan sosial berikutnya. Jika suara mereka tidak didengar maka akan menimbulkan gelombak demonstrasi yang lebih besar yang mungkin semakin tidak bisa dikendalikan,” ujar Achmad.
Achmad juga menyatakan bahwa permasalahan dari masih tingginya harga minyak goreng ini bukan dari masalah suplai, tapi dari masalah distribusi dan adanya perbedaan harga eceran minyak sawit dengan harga CPO internasional.
Sebagaimana kita tahu harga eceran tertinggi ditetapkan oleh pemerintah dan kemudian menyebabkan terjadinya black market, alasannya adalah jarga eceran tertinggi itu adalah harga yang tidak menguntungkan pengusaha sehingga pengusaha lebih memilih menjual CPO itu keluar negeri (ekspor) dan mengorbankan/mengabaikan kebutuhan domestik.
Baca Juga: Survei SMRC: 76,7 Persen Warga Merasa Puas dengan Kinerja Jokowi
“Inilah yang membuat oknum policy maker di kementrian perdagangan yang meloloskan ijin ekspor CPO padahal ada DMO yang harus dipatuhi sehingga kongkalikong permainan pemangku kebijakan dengan oknum produsen CPO harus ditindak tegas karena dampak kerusakan yang ditimbulkan cukup besar,” tegasnya.
Sumber: republika.co.id
Artikel Terkait
Bahlil Larang Panic Buying BBM & LPG: Ini Dampak Perang Iran dan Cara Bijak Hemat Energi
Update Harga BBM Maret 2026 di Jateng: Pertalite Aman, Pertamax Naik Rp 500, Ini Daftar Lengkapnya!
Misteri Bau Busuk di Masjid Pangandaran Terungkap: Pemuda Tewas Tersengat Listrik Saat Mabuk?
Panglima TNI Copot Kabais? Ternyata Ini Kaitannya dengan Kasus Penyiksaan Aktivis Kontras