Hasbullah mengungkapkan, hal ini bisa terjadi karena harga rokok yang variatif, dan masyarakat bisa beralih ke rokok yang harganya lebih murah. Terlebih, ia menyebutkan konsumen yang paling banyak merokok ada di rentang usia 15-19 tahun.
"Luar biasa. Ini adalah kelompok-kelompok yang diharapkan menjadi generasi emas di 2045. Kalau salah mereka pada mabok kebanyakan rokok, makin tinggi income-nya karena pendapatan perkapita kita terus naik, makin mabok mereka. Maka generasi emas akan jadi generasi cemas karena tidak mampu bersaing. Itu yang kita khawatirkan," katanya.
Meski begitu, Hasbullah mengungkapkan, pemerintah dalam hal ini ternyata memiliki komitmen yang bisa dibilang bagus. Ia menyebutkan hal ini sudah diwujudkan lewat UU Cukai yang terbit pada 2007 silam. Namun, setelah penerapan ini rupanya kenaikan konsumsi rokok tidak dapat dikurangi.
Sumber: surakarta.suara.com
Artikel Terkait
Bahlil Larang Panic Buying BBM & LPG: Ini Dampak Perang Iran dan Cara Bijak Hemat Energi
Update Harga BBM Maret 2026 di Jateng: Pertalite Aman, Pertamax Naik Rp 500, Ini Daftar Lengkapnya!
Misteri Bau Busuk di Masjid Pangandaran Terungkap: Pemuda Tewas Tersengat Listrik Saat Mabuk?
Panglima TNI Copot Kabais? Ternyata Ini Kaitannya dengan Kasus Penyiksaan Aktivis Kontras