Terlebih, bagi situs yang sudah berusia ribuan tahun. Sebab, setiap tahun, pengunjung Borobudur terus meningkat dan mereka tidak dapat menikmati dengan nyaman karena terlalu padat.
"Akan tetapi, membatasi kunjungan dengan cara menaikkan tiket secara ugal-ugalan, itu juga akal-akalan saja. Mau melindungi objeknya, tetapi tidak mau berkurang penghasilannya. Kalau benar-benar konsisten untuk preservasi tidak perlu menaikkan tiket," kata Margana saat dikonfirmasi republika.co.id, Minggu (5/6/2022).
Margana menjelaskan, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk melindungi objek. Pertama, membatasi kuota kunjungan, khususnya bagi pengunjung rombongan dengan melakukan reservasi lebih dulu.
Kemudian, mengatur aliran pengunjung sehingga tidak merusak heritage seperti membedakan tiket bagi yang ingin naik ke candi atau hanya berkeliling di sekitar candi. Kedua cara tersebut bisa menjadi opsi selain menaikkan harga tiket.
Margana menyebut jangan sampai Candi Borobudur menjadi kawasan eksklusif dan mahal sehingga hanya dapat dijangkau wisatawan menengah ke atas. Menurut dia, investasi di kawasan itu harus menyertakan masyarakat setempat.
"Tarif Rp750 ribu tentu tidak terjangkau untuk turis domestik. Aturan ini juga diskriminatif karena hanya berlaku untuk domestik," ujarnya.
Artikel Terkait
Remaja 18 Tahun di Jepara Digilir 8 Pria, Polisi Buru Pelaku di 3 TKP Berbeda
Bakom RI Gandeng 21 Homeless Media: Strategi Baru Jangkau 100 Juta Audiens Digital
Modus Keji Kiai Cabul Pati: Iming-Iming Hubungan Badan Sembuhkan Penyakit, Santriwati Bergilir Jadi Korban Selama 3 Tahun
Profil Letjen Robi Herbawan: Jenderal Kopassus Eks Ajudan Prabowo Resmi Jabat Kabais TNI