Helsinki bukan cuma dokumen damai. Ia adalah jembatan antara kekerasan dan peradaban.
Salah satu pasalnya menyebut jelas bahwa Aceh berhak mengatur wilayahnya sendiri berdasarkan batas administratif per 1 Juli 1956.
Jadi, ketika pemerintah pusat mengeluarkan Kepmendagri untuk mengubah batas wilayah tanpa melibatkan Aceh, itu bukan hanya pelanggaran administratif — tapi pelanggaran moral dan politis atas MoU yang diakui internasional.
Jusuf Kalla, mediator utama dalam proses damai Helsinki, tak tinggal diam. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Kepmendagri itu cacat formil.
“MoU Helsinki merujuk batas administratif 1956. Tidak bisa diubah sepihak oleh menteri. Ini bisa merusak komitmen damai.”
Pernyataan JK adalah sinyal kuat bahwa Jakarta sedang menabuh genderang politik yang bisa mengguncang stabilitas wilayah.
Tito Karnavian, mantan Kapolri yang pernah bersentuhan langsung dengan Aceh, kini terlihat mengabaikan sensitivitas historis daerah tersebut.
Ia mencoba menerapkan logika hukum pusat ke tanah yang dibentuk oleh perjanjian politik.
Sementara Bobby Nasution — yang mulai menapaki jalur politik nasional — tampak memanfaatkan momen ini sebagai batu loncatan, tanpa memahami betapa berbahayanya bermain-main dengan batas Aceh.
Kesalahan mereka? Mereka berpikir Aceh bisa ditangani seperti Sumatera Utara.
Padahal Aceh bukan sekadar wilayah — tapi entitas politik dan historis yang punya memori kolektif yang hidup.
Jika pusat terus mengabaikan substansi perjanjian Helsinki dan menggampangkan batas wilayah sebagai urusan administratif, maka yang dibangkitkan bukan sekadar konflik kecil, tapi potensi perlawanan politik yang dalam.
“Jakarta boleh menang di kertas. Tapi Aceh punya memori darah.”
Tito dan Bobby salah langkah — lebih dari itu, salah membaca. Karena Muzakir Manaf bukan orang yang bisa diperlakukan sebagai pemain pinggiran.
Ia mewakili memori kolektif Aceh yang tidak akan diam bila harga diri mereka diinjak. ***
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Kritik Keras TNI Bubarkan Nobar Film Pesta Babi: Ini Pembungkaman Kebebasan Berekspresi!
Harga BBM Pertamina 11 Mei 2026: Daftar Terbaru Pertalite, Pertamax, Solar - Ada yang Naik Gila-gilaan!
Pertumbuhan 5,61% Justru Memiskinkan? Ekonom Ungkap Fakta Pahit di Balik Data Ekonomi Indonesia
Demo DJP Sumut: Buruh Bongkar Skandal Perusahaan Fiktif & Dugaan Intimidasi Whistleblower Berani Tolak Suap Rp25 M