Tindakan Jokowi pada Agustus 2014, sesaat sebelum dilantik, yang bertemu dengan Profesor Damien Kingsbury sambil membawa dokumen tersebut, "dianggap sebagai indikasi pengkhianatan," dan diduga atas rekomendasi dari Amerika Serikat.
Latar belakang inilah yang disinyalir membuat Prabowo gamang.
Keraguan Prabowo tidak hanya soal Gibran. Chandra menyoroti perubahan karakter sang Jenderal yang kini tampak ragu mengambil keputusan tegas.
"Perubahan karakter pada Prabowo yang kini terlihat lebih peragu dibandingkan masa lalunya yang overconfident," ujarnya.
Menurutnya, Prabowo "ragu-ragu dalam mengambil tindakan tegas terhadap berbagai persoalan, termasuk isu hukum dan kinerja menteri, karena adanya tekanan, terutama dari pihak Jokowi."
Potensi Gagal di Papua dan Seruan Mundur
Jika penugasan ini benar-benar terjadi, Kolonel Chandra pesimis Gibran akan menuai sukses.
Kompleksitas masalah Papua, ditambah pendekatan pembangunan yang keliru seperti proyek food estate, menjadi batu sandungan utama.
Proyek lumbung pangan itu "dianggap blunder karena tidak melibatkan dialog dengan masyarakat adat dan mengabaikan tanah ulayat."
Atas dasar itu, Chandra memprediksi Gibran "akan kesulitan berprestasi di Papua karena kompleksitas masalah dan pendekatan pembangunan yang ada."
Lebih jauh, ia secara blak-blakan menyentil kapasitas Gibran sebagai wakil presiden.
"Ada pandangan bahwa Gibran selama ini tidak melakukan tugas-tugas kenegaraan secara maksimal," ungkapnya, bahkan secara mengejutkan "menyarankan agar Gibran mundur dari jabatan Wapres karena dianggap tidak memiliki kapasitas."
[VIDEO]
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Partai Demokrat Bongkar Standar Ganda AS-Israel: Serangan ke Iran Picu Terorisme Baru?
Innalillahi! Try Sutrisno Wafat: Kisah Wapres ke-6 RI dari Medan Perang ke Istana
Rocky Gerung Peringatkan Prabowo: Risiko Jadi Mediator Iran-AS dan Fakta Tuduhan Agen Amerika
PMI Investasi Rp 5,3 Triliun di Indonesia: Sampoerna Jadi Pusat Ekspor Global untuk 30+ Negara?