Isu ini sebenarnya sudah pernah ditanggapi Bank Indonesia pada akhir 2022.
Saat itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, menegaskan tidak ada pencetakan khusus.
Menurutnya, uang yang sudah beredar memang memiliki nomor seri acak, lalu ada pihak yang menukarkan dengan seri yang kebetulan sesuai.
Selain menyinggung soal Peruri, Uchok juga menyoroti pemasok tinta pengaman asal Swiss, SICPA, yang memasok kebutuhan cetak uang di banyak negara.
Ia menilai, Indonesia perlu memeriksa kemungkinan penyimpangan pasokan tinta.
Sebagai catatan, SICPA sendiri tengah menghadapi kasus hukum di Swiss.
Perusahaan itu dinyatakan bersalah oleh Kejaksaan Agung Swiss (OAG) karena lemahnya sistem pengawasan internal yang membuka celah praktik suap di sejumlah negara seperti Brasil, Kolombia, dan Venezuela.
Sumber: SeputarCibubur
Artikel Terkait
Teddy Indra Wijaya: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri – Naik Tak Wajar atau Buah Kepercayaan?
Gatot Nurmantyo Bongkar Alasan Dipecat Jokowi dari Panglima TNI: Saya Ditendang karena Tidak Nurut
Qodari Resmi Jabat Kepala Bakom: Gaya Komunikasi Pemerintah Berubah Total Jadi Lebih Agresif dan Siap Perang Narasi
Ray Rangkuti Kecam Reshuffle Kelima Prabowo: Cuma Mutasi Figur Lama, Nggak Ada Perubahan Signifikan