Jamiluddin menjelaskan bahwa tindakan Jokowi ini sejalan dengan teori dramaturgi. Di panggung depan, kerja kerasnya terlihat seperti murni untuk membesarkan PSI agar menjadi partai besar dan diperhitungkan, yang disambut antusias oleh kader.
Namun, di panggung belakang, target sesungguhnya lebih kompleks. "Target awalnya membesarkan PSI, tetapi target sesungguhnya adalah untuk memapankan Kaesang di PSI dan memastikan Gibran tetap menjadi wapres pada 2029, lalu mengantarkannya menjadi presiden pada 2034," ujar Jamiluddin.
PSI Sebagai Kendaraan Politik Dinasti
Berdasarkan analisis ini, motivasi Jokowi diklaim bukan sekadar untuk menguatkan PSI sebagai institusi, melainkan menjadikannya alat untuk memperkuat dinasti politik keluarga. Janji kerja mati-matian tersebut dipandang sebagai strategi untuk mengonsolidasikan kekuatan dan pengaruh.
"Bila hal ini terwujud, maka dinasti politik Jokowi akan semakin kuat dan bersinar," pungkas Jamiluddin. Analisis ini menegaskan bahwa langkah Jokowi ke PSI akan terus menjadi sorotan utama dalam peta perpolitikan Indonesia ke depan, terutama terkait masa depan Gibran dan Kaesang.
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?