“Jokowi dan anak-anaknya sama sekali tidak memiliki pengalaman mengelola partai politik,” tegas Saiful. Ia juga menyoroti penunjukan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI yang hanya berselang dua hari setelah resmi menjadi kader. “Bagaimana mungkin orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman memimpin dan mengelola partai politik akan diandalkan untuk membesarkan PSI?” tanyanya.
Perubahan Status dan Pengaruh Jokowi Pasca-Kepresidenan
Analisis ini juga menekankan perubahan status Jokowi yang kini bukan lagi presiden. Saiful berpendapat bahwa mantan presiden tidak lagi memiliki kekuasaan eksekutif penuh untuk mempengaruhi birokrasi atau kebijakan negara, kecuali pada lingkaran terdekatnya. Kondisi ini dianggap mengurangi daya tarik dan pengaruh politik yang dapat ditransfer ke PSI.
Prospek dan Ancaman Bagi PSI di Pemilu Mendatang
Dengan kondisi tersebut, Saiful memprediksi PSI justru berpeluang menjadi lebih “gurem” atau kecil dibandingkan performanya pada dua pemilu sebelumnya. Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada figur tunggal tanpa penguatan struktur, ideologi, dan kaderisasi yang solid merupakan strategi yang berisiko tinggi untuk keberlanjutan partai.
“Lebih baik PSI dan Jokowi segera insyaf,” pungkas analis politik Saiful Huda Ems, mengingatkan perlunya reorientasi strategi partai ke depan.
Artikel Terkait
Prabowo Bebas Pilih Cawapres 2029: Gibran Bukan Satu-satunya Pilihan, Ini Kata Analis!
Gerindra Serukan Prabowo 2 Periode, Tapi Tanpa Gibran: Awal Pecah Kongsi Jelang Pilpres 2029?
Prabowo-Gibran 2029? Ternyata Kursi Cawapres Justru Akan Jadi Rebutan Sengit!
Prabowo Soroti Rahasia Umat Islam Indonesia Jadi Teladan Dunia: Ini Kuncinya!