“Sentimen agama dimainkan dengan sangat kasar pada Pilkada DKI 2017, rumah-rumah ibadah digunakan untuk berkampanye mendukung calon berdasarkan agama, bukan berdasarkan kinerja,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Sigit juga mengungkit kembali peristiwa penolakan mengurus jenazah nenek Hindun, seorang pendukung Ahok, jenazah Nenek Hindun bahkan ditolak untuk disemayamkan di masjid hanya karena dia bukan pendukung Anies Baswedan.
“Ini bukan sekedar ancaman, Nenek Hindun tercatat sebagai salah satu warga Jakarta yang jenazahnya ditelantarkan karena memilih Ahok. Alhamdulillah jenazah Nenek Hindun akhirnya dapat dimakamkan secara layak setelah beritanya viral,” katanya lagi.
Selain Sigit juga mengungkit pidato pertama Anies Baswedan yang disampaikan di hadapan pendukungnya sesaat setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, pidato yang membawa - membawa nama pribumi itu mengkonfirmasi, bahwa politik ayat dan mayat di Pilkada DKI memang dimainkan dengan sempurna oleh Anies Baswedan.
“Anies menutup kebrutalan Pilkada DKI Jakarta dengan sempurna. Saat terpilih dan dilantik menjadi gubernur, dia menyebut dulu pribumi ditindas dan dikalahkan, dan sudah saatnya pribumi jadi tuan rumah di negeri sendiri,” tukasnya.
Sumber: populis.id
Artikel Terkait
PDIP 2029: Strategi Penyeimbang Rahasia & Peluang Duet Ulang Megawati-Prabowo?
Jokowi Masih Disalahkan? Kritik Pedas Ini Ungkap Alasan Nama Mantan Presiden Selalu Muncul di Setiap Masalah Bangsa
Eggi Sudjana Temui Jokowi di Solo: Benarkah Ada Permintaan Maaf? Ini Faktanya!
Survei Mengejutkan: AHY Kalahkan Gibran & Anies di Bursa Cawapres 2029, Siapa Pemenangnya?