“Sentimen agama dimainkan dengan sangat kasar pada Pilkada DKI 2017, rumah-rumah ibadah digunakan untuk berkampanye mendukung calon berdasarkan agama, bukan berdasarkan kinerja,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Sigit juga mengungkit kembali peristiwa penolakan mengurus jenazah nenek Hindun, seorang pendukung Ahok, jenazah Nenek Hindun bahkan ditolak untuk disemayamkan di masjid hanya karena dia bukan pendukung Anies Baswedan.
“Ini bukan sekedar ancaman, Nenek Hindun tercatat sebagai salah satu warga Jakarta yang jenazahnya ditelantarkan karena memilih Ahok. Alhamdulillah jenazah Nenek Hindun akhirnya dapat dimakamkan secara layak setelah beritanya viral,” katanya lagi.
Selain Sigit juga mengungkit pidato pertama Anies Baswedan yang disampaikan di hadapan pendukungnya sesaat setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, pidato yang membawa - membawa nama pribumi itu mengkonfirmasi, bahwa politik ayat dan mayat di Pilkada DKI memang dimainkan dengan sempurna oleh Anies Baswedan.
“Anies menutup kebrutalan Pilkada DKI Jakarta dengan sempurna. Saat terpilih dan dilantik menjadi gubernur, dia menyebut dulu pribumi ditindas dan dikalahkan, dan sudah saatnya pribumi jadi tuan rumah di negeri sendiri,” tukasnya.
Sumber: populis.id
Artikel Terkait
Rocky Gerung Peringatkan Prabowo: Risiko Jadi Mediator Iran-AS dan Fakta Tuduhan Agen Amerika
PMI Investasi Rp 5,3 Triliun di Indonesia: Sampoerna Jadi Pusat Ekspor Global untuk 30+ Negara?
Impor 105 Ribu Pikap India Ditolak, Mahasiswa Desak Dirut Agrinas Dicopot!
Gagal Total Negosiasi ART? Pakar Sebut Tim Ekonomi Prabowo Hanya Jadi Janitor AS