Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin, Butet tampil sebagai budayawan kritis melalui program “Sentilan-Sentilun” yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta nasional. Dia sukses membangun image diri sebagai seorang budayawan, seniman, dan intelektual.
Tapi kini, kata Kamhar, semua hanya topeng dan sandiwara saja. Butet baginya tidak lebih dari seorang buzzer.
“Tak ada bedanya dengan buzzerRp. Inilah sejatinya Butet. Ibarat pepatah, sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti jatuh juga. Sepandai-pandainya bersembunyi di balik topeng dan bersandiwara, akhirnya ketahuan juga. Butet deh,” pungkasnya.
Sumber: rmol
Artikel Terkait
Strategi Jokowi 2029-2034: PSI, Kaesang, dan Misteri Dinasti Politik yang Mengguncang Indonesia
Dokter Tifa Bongkar Alasan Jokowi Paksakan Diri ke Rakernas PSI: Sakit atau Strategi?
Prabowo Gelar Pertemuan Rahasia Malam Hari: Siti Zuhro dan Susno Duadji Bicara Apa?
Gatot Nurmantyo vs Kapolri: Analisis Hukum Mengungkap Dampak Kritik yang Dinilai Melemahkan Polri