Zulhas menjelaskan bahwa dalam politik, setiap partai memiliki hak untuk menentukan jalur politiknya sendiri. Meskipun demikian, ia menggambarkan perubahan yang terjadi seolah-olah tanpa pemberitahuan, seperti ketika rombongan mobil yang tiba-tiba berbelok tanpa menggunakan lampu sein. Seperti yang dilakukan PKB.
Seperti diketahui, pada 31 Agustus, Partai Demokrat mengumumkan bahwa Partai NasDem telah membuat keputusan sepihak dengan membuat kerja sama dengan PKB dan menetapkan Cak Imin sebagai calon wakil presiden (cawapres) untuk Anies Baswedan.
Perlu dicatat bahwa saat ini Cak Imin dan PKB masih menjadi bagian dari Koalisi Indonesia Maju, bersama dengan Partai Gerindra, PAN, dan Golkar.
Namun, pada tanggal 1 September, Partai Demokrat yang tergabung di Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) secara resmi mencabut dukungannya untuk Anies.
Sumber: RMOL
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?