Sebagian netizen mencoba membela Gibran dengan mengatakan bahwa Abdur tidak memahami analogi.
Namun, Abdur dengan tajam menjawab, "Justru karena saya paham analogi, makanya saya sadar itu adalah cara analogi yang buruk."
Melalui pernyataannya, Gibran mencoba menyampaikan pendekatan baru terhadap pajak di Indonesia.
Meskipun terkesan kontroversial, konsep memperlakukan wajib pajak seperti binatang dapat diartikan sebagai upaya untuk memberikan kebebasan dan kemudahan kepada para kontributor pajak.
Pernyataan Abdur, mencerminkan sikap kritis terhadap cara Gibran menyampaikan gagasannya.
Menggambarkan bayar pajak sebagai sesuatu yang melelahkan seperti "capek-capek" adalah cara Abdur untuk mengingatkan bahwa wajib pajak seharusnya dihargai, bukan dianggap sebagai hewan di kebun binatang.
Sebuah debat yang meriah dan penuh warna, memperlihatkan kompleksitas diskusi mengenai perpajakan di Indonesia. Apakah pandangan Gibran akan merubah paradigma perpajakan di tanah air?
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: pojokbaca.id
Artikel Terkait
Prabowo Dua Periode 2029: Rahasia Kepercayaan Diri Gerindra & Masa Depan Koalisi Tanpa Gibran
Isu Kapolri Membangkang Prabowo: Opini Jahat atau Upaya Sistematis Serang Polri?
Misteri Dukungan Golkar 2029: Strategi Rahasia Bahlil untuk Kuasai Panggung Politik
Prabowo Dua Periode 2029: Cek Ombak Gerindra atau Sinyal Perang Koalisi?