Hal itu mendapat respons dari banyak pihak, salah satunya pengamat komunikasi dan politik Jamiluddin Ritonga.
Jamiluddin, sapaan akrabnya mengatakan, duet Anies-Ganjar memang terkesan prospektif.
"Secara matematis, jika mereka dipasangkan, akan memperoleh elektabilitas tinggi," ujar Jamiluddin dilansir dari GenPI.co, Senin (30/5).
Namun, pendekatan matematis itu tidak berlaku dalam politik, khususnya terkait elektabilitas.
"Dua sosok yang elektabilitas tinggi jika dipasangkan justru akan menurun," jelasnya.
Akademisi dari Universitas Esa Unggul itu menjelaskan bahwa hal itu bisa terjadi karena pendukung masing-masing calon bisa saling meniadakan.
Artikel Terkait
Ketua HMI Jabar Diteror Usai Ungkap Video Andrie Yunus: Siapa Dalangnya?
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?