POLHUKAM.ID - Komisaris PT Pelni, Dede Budyarto menanggapi lokasi yang beredar dalam bentuk video sedang dijadikan tambang dengan narasi menyebut bahwa lokasinya di Raja Ampat.
Video viral tersebut mendorong masyarakat menggaungkan tagar #save Raja Ampat.
Berbeda dengan Dede, melalui akun X miliknya, @kangdede78 ia mengatakan video yang beredar bukan di Raja Ampat melainkan di Sulawesi Tenggara.
"Faktanya, video yg Anda unggah itu bukan di Raja Ampat, tapi di Sulawesi Tenggara [menit 16] link; suarakendari.com, Kenapa sebar hoaks dgn bawa-bawa nama Raja Ampat?," tanya Dede dilansir X Sabtu, (7/6/2025).
Menurut Dede, beredar luasnya kabar yang berupa berita tidak benar merupakan sebuah pembodohan publik
"Ini bukan lagi kritik, ini pembodohan publik. Main framing seolah-olah bencana di mana-mana akibat hilirisasi, padahal data & lokasi saja anda salah total. Apa anda? Provokasi? Fitnah?," tulis Loyalis Jokowi ini.
Lebih lanjut, Dede tidak setuju apabila kabar yang beredar tanpa mencari tahu kebenaran terlebih dahulu, hanyalah sebuah sensasi murahan.
"Kalau mau bicara soal lingkungan, pakai data & akal sehat. Bukan sensasi murahan dengan info palsu," jelasnya.
👇👇
Faktanya, video yg Anda unggah itu bukan di Raja Ampat, tapi di Sulawesi Tenggara [menit 16] link; https://t.co/nCyjS8ipCl
Kenapa sebar hoaks dgn bawa-bawa nama Raja Ampat?
Ini bukan lagi kritik, ini pembodohan publik. Main framing seolah-olah bencana di mana-mana akibat… https://t.co/F9rxkYJVEg pic.twitter.com/h9cilU0II2
Artikel Terkait
Prabowo Dua Periode 2029: Rahasia Kepercayaan Diri Gerindra & Masa Depan Koalisi Tanpa Gibran
Isu Kapolri Membangkang Prabowo: Opini Jahat atau Upaya Sistematis Serang Polri?
Misteri Dukungan Golkar 2029: Strategi Rahasia Bahlil untuk Kuasai Panggung Politik
Prabowo Dua Periode 2029: Cek Ombak Gerindra atau Sinyal Perang Koalisi?