Ada Permintaan Tinggi di Dark Web, Penjahat Siber Jual Akses Data Perusahaan sampai Rp 60 Juta

- Senin, 27 Juni 2022 | 19:00 WIB
Ada Permintaan Tinggi di Dark Web, Penjahat Siber Jual Akses Data Perusahaan sampai Rp 60 Juta

"Data akses untuk infrastruktur perusahaan besar biasanya berkisar US$ 2.000–US$ 4.000 (Rp 30–60 juta), yang terbilang cukup murah. Namun, sebenarnya tidak ada batasan dari harga yang ditawarkan. Data perusahaan dengan pendapatan US$ 465 juta bisa ditawarkan seharga US$ 50 ribu (Rp 741 juta)," ujarnya.

Salah satu komponen paling penting dalam penentuan harga akses awal adalah jumlah uang yang bisa didapat pelaku dari serangan menggunakan akses tersebut. Sergey mengatakan ada alasan mengapa pelaku ransomware siap membayar ribuan, bahkan puluhan ribu dolar, demi bisa menyusup ke jaringan perusahaan.

"Perusahaan yang menjadi sasaran bisa merugi hingga jutaaan dolar. Pelaku ransomware paling aktif tahun lalu diperkirakan menerima transfer dana US$ 5,2 miliar dalam tiga tahun terakhir," ungkapnya.

Ia menuturkan selain mengenkripsi data perusahaan, penjahat siber juga mencuri data tersebut. Mereka kemudian akan mengunggah data curian itu di blog mereka terutama sebagai bukti, dan daya tawar ekstra, mengancam akan mengunggah lebih banyak data bila perusahaan tidak membayar tebusan yang mereka minta dalam jangka waktu tertentu.

“Komunitas penjahat siber telah berevolusi, tidak hanya dari sisi teknis tetapi juga dari sudut pandang organisasi mereka. Kelompok ransomware saat ini lebih terlihat seperti industri yang menjual layanan dan produk. Kami terus menerus memantau forum darknet untuk mendeteksi tren dan taktik terbaru penjahat siber bawah tanah. Kami melihat adanya peningkatan pasar akan data yang dibutuhkan untuk melakukan serangan," tegas Sergey.

Pencarian dark web yang diperkenalkan di portal Kaspersky Threat Intelligence memberikan akses atas insight dari berbagai sumber terpercaya di seluruh dunia yang memungkinkan perusahaan untuk memitigasi dampak serangan siber, dan mengidentifikasi potensi ancaman sebelum menjadi kenyataan.

Sumber: republika.co.id

Halaman:

Komentar

Terpopuler