Setelah 4,5 jam perjalanan darat, mereka terbang ke Nairobi, Kenya, lalu transit dengan tiket baru menuju Afrika Selatan. "Kami memasuki Afrika Selatan tanpa masalah," kata Bashir.
Penyelidikan dan Bantuan di Afrika Selatan
Kelompok tersebut menginap di hotel selama seminggu sebelum akhirnya dibantu organisasi amal Gift of the Givers. Namun, penerbangan berikutnya yang membawa putri Bashir dengan biaya $2.000 AS langsung disambut polisi.
"Polisi Afrika Selatan menginterogasi putri saya dan semua penumpang selama 15 jam dan ingin memulangkan mereka ke Kenya," tuturnya. Pihak berwenang menduga penerbangan itu bagian dari skema pengusiran warga Palestina. Presiden Cyril Ramaphosa memerintahkan penyelidikan, namun ke-153 pengungsi akhirnya mendapat pembebasan visa 90 hari.
Fakta di Balik Organisasi Al Majd Eropa
Situs web Al Majd Eropa mengklaim berkantor di Yerusalem Timur dan berdiri di Jerman. Namun, investigasi harian Israel, Haaretz, mengungkap fakta lain. Organisasi ini ternyata terdaftar di Estonia dan dijalankan oleh Tomer Janar Lind, pemegang kewarganegaraan ganda Israel-Estonia.
Menurut Haaretz, Lind bekerja sama dengan unit militer Israel Cogat yang bertugas memindahkan warga Palestina dari Gaza. Situs web organisasi tidak memiliki alamat atau nomor telepon yang jelas.
Motivasi: Bertahan Hidup, Bukan Tinggal di Luar Negeri
Bashir menegaskan, perjalanan ini murni untuk bertahan hidup. "Kami tidak menandatangani surat 'tidak boleh kembali'. Jika seseorang bertanya, 'Apakah Anda ingin keluar?' Saya akan jawab, iya. Orang-orang di Gaza ingin keluar dari penderitaan, genosida, dan neraka," tegasnya.
Ia mengenang kehancuran di kampung halamannya: "Rafah telah disapu bersih. Tidak ada satu rumah pun yang tersisa. Semuanya hancur di Khan Younis, Rafah, dan Gaza."
Artikel Terkait
Israel Hancurkan Jantung Ekonomi Iran: Dampak Miliaran Dolar & Bahaya Perang Baru!
Trump Ancam Hancurkan Iran dalam 4 Jam: Benarkah Butuh 100 Tahun untuk Pulih?
Amandemen Ke-25 Didesak Lagi: Bisakah Unggahan Trump Soal Iran Jadi Alasan Lengserkan Presiden?
Video Pastor Katolik Klaim Trump Dikirim Tuhan Bunuh Muslim: Fakta atau Hoax yang Menggemparkan?