Dibalik Panggung Saudi: MBS & Adiknya Berebut Pengaruh, Siapa yang Akan Menang?

- Minggu, 01 Februari 2026 | 19:25 WIB
Dibalik Panggung Saudi: MBS & Adiknya Berebut Pengaruh, Siapa yang Akan Menang?

"Di satu sisi, Saudi harus menjaga solidaritas dunia Islam dan stabilitas kawasan Teluk yang vital bagi ekonominya. Di sisi lain, mereka tetap memandang Iran sebagai rival struktural jangka panjang yang harus ditekan," jelas Dina.

Kekhawatiran elite Saudi adalah bangkitnya kekuatan Iran akan menggerus pengaruh regional mereka, sebuah kekhawatiran yang telah lama dihembuskan oleh AS.

AS Beri Sinyal Berbeda, Sekutu Teluk Kebingungan

Ketidakjelasan strategi AS turut memperumit situasi. RIA Novosti melaporkan bahwa AS belum memberi kejelasan rencana kepada sekutu-sekutunya di Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Seorang pejabat GCC menyatakan mereka gagal memahami penilaian penuh Washington terhadap situasi di kawasan.

Meski Pentagon dan Gedung Putih dilaporkan telah menyusun skenario serangan, mulai dari serangan simbolis hingga kampanye pemboman besar-besaran, tujuan strategis AS tetap dirahasiakan.

Mengapa Iran Dinilai Sulit Dikalahkan Secara Militer?

Pakar lain dari Unpad, Teuku Rezasyah, memaparkan beberapa alasan fundamental mengapa Iran merupakan target militer yang sangat sulit:

  1. Semangat Nasionalisme Historis: Sebagai pusat peradaban awal, kesadaran menjaga marwah bangsa sangat kuat di semua lapisan masyarakat Iran.
  2. Kepemimpinan yang Dipercaya: Pemerintah dianggap memiliki keteladanan ideologis dan berkomitmen pada kemandirian nasional.
  3. Kekuatan Militer Mandiri: Iran memiliki industri pertahanan dalam negeri yang maju, dilengkapi dengan arsenal rudal beragam jarak yang mampu mengancam aset AS di kawasan.
  4. Kemampuan Blokade Selat Hormuz: Iran dapat membalas dengan memblokir selat vital bagi ekspor energi global, mengguncang ekonomi dunia.
  5. Dukungan dan Kewaspadaan Regional: Serangan terhadap Iran berpotensi memicu pembalasan besar-besaran yang mengguncang seluruh Timur Tengah.
  6. Keengganan NATO: Aliansi Barat seperti NATO tidak memiliki kemauan serius untuk mendukung invasi langsung ke Iran.

Dengan kompleksitas ini, politik dua kaki Arab Saudi mencerminkan kalkulasi rumit untuk bertahan di tengah badai geopolitik yang berpotensi meledak kapan saja. Pilihan antara solidaritas Muslim dan kepentingan keamanan bersama sekutu lamanya, AS, menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan Mohammed bin Salman.

Halaman:

Komentar