Politikus lain seperti Yair Golan dan Gadi Eisenkot juga ikut mengutuk. Golan menekankan bahwa tanggung jawab insiden ini sepenuhnya berada pada kepemimpinan Haredi. Sementara Eisenkot mengingatkan jasa IDF yang membantu warga Bnei Brak selama pandemi COVID-19, dengan menyatakan, "Pihak yang menghindari dinas menyerang pihak yang melayani."
Pernyataan dan Kutukan Keras dari Pimpinan IDF
Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, secara resmi mengutuk keras serangan terhadap dua prajurit wanita di Bnei Brak tersebut. Dalam pernyataan resmi, IDF menyatakan bahwa Zamir memandang serius insiden ini.
Pernyataan itu menegaskan, "Setiap tindakan yang membahayakan tentara IDF yang dilakukan oleh warga sipil Israel merupakan pelanggaran serius terhadap garis merah dan tindakan harus diambil terhadap para penyerang dengan tegas." Zamir juga menyatakan harapannya agar semua pelaku serangan dibawa ke pengadilan untuk diadili.
Akar Masalah: Penolakan Wajib Militer oleh Komunitas Haredi
Insiden ini menyoroti kembali ketegangan lama antara komunitas Haredi dengan negara Israel, terutama terkait kewajiban militer. Komunitas Haredi secara tradisional menolak untuk mengikuti wajib militer yang diberlakukan pemerintah, meskipun aturan tersebut telah dituangkan dalam undang-undang. Penolakan ini seringkali memicu gesekan sosial dengan warga Israel lainnya yang wajib menjalani dinas militer.
Insiden pengejaran dan hampirnya penganiayaan terhadap dua tentara wanita IDF di Bnei Brak ini memperlihatkan bagaimana ketegangan tersebut dapat meledak menjadi kekerasan terbuka, yang dikecam oleh berbagai pihak sebagai tindakan anarki dan pengkhianatan terhadap pelindung negara.
Artikel Terkait
Operasi Militer AS vs Iran: Skenario Serangan, Target Rahasia, dan Ancaman Perang Panjang
Barack Obama Bongkar Fakta Alien: Mereka Nyata, Tapi...
Influencer Kuliner Tewas Usai Makan Kepiting Setan: Racun Apa yang Membunuhnya dalam 2 Hari?
Mike Tyson Jadi Duta Makanan Sehat AS: Kisah Trauma Pribadi di Balik Kampanye Super Bowl