Direktur Intelijen Nasional Avril Haines menilai Rusia membuat kemajuan lambat sehingga perang bisa berlangsung lama.
"Kami melihat adanya diskoneksi antara tujuan militer jangka pendek Putin dalam masalah ini dan kapasitas militernya, semacam ketidaksesuaian antara ambisinya dan apa yang bisa dicapai oleh militernya," terang Haines dalam konferensi Departemen Perdagangan AS.
Dilansir dari BBC, Moskow beralih fokus untuk merebut wilayah Donbas Ukraina pada bulan Maret setelah gagal merebut Kyiv dan kota lainnya.
Meski begitu, Putin masih memegang tujuan yang sama di awal konflik, yaitu untuk merebut sebagian besar wilayah Ukraina. Namun, Rusia mustahil mencapai tujuan tersebut dalam waktu dekat.
Sejak gagal mencapai tujuan awalnya untuk merebut Kyiv, Rusia berfokus merebut wilayah Donbas timur, kawasan industri besar yang diklaim Putin bahwa Ukraina telah melakukan genosida terhadap warga berbahasa Rusia.
Artikel Terkait
Blokade Trump vs Iran: Selat Hormuz Membara, Bisakah Perang Dicegah?
Gempa M7.4 Baru Saja Terjadi, BMKG Jepang Peringatkan: Bersiap untuk yang Lebih Dahsyat!
Balikatan 2026: 17.000 Pasukan AS-Filipina-Jepang Uji Rudal di Depan Taiwan, China Marah!
Selat Hormuz Meledak! AS Tembak & Sita Kapal Iran, Ancaman Perang Makin Nyata?