Pada 2020, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan terbang ke Arab Saudi untuk bertemu dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Pertemuan itu terjadi tak lama setelah Israel menjalin hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan. Kesepakatan normalisasi serupa kemudian ditandatangani dengan Maroko.
Raja Salman telah lama mendukung keinginan Palestina untuk mendirikan negara merdeka yang mencakup wilayah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem timur.
Kerajaan Saudi mendukung solusi dua negara untuk mengakhiri konflik Israel dengan Palestina. Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi telah mengizinkan penerbangan antara Israel dan negara-negara Teluk untuk melintasi wilayah udaranya.
Harian Israel Hayom mengungkapkan bahwa, Arab Saudi akan membuka wilayah udaranya untuk maskapai penerbangan Israel. Hal ini merupakan kabar baik bagi ribuan orang Israel dan industri penerbangan lokal.
Wilayah udara Saudi saat ini hanya terbuka untuk perusahaan Israel, ketika terbang ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain. Hal ini sesuai dengan Kesepakatan Abraham, yang menjadi landasan normalisasi sejumlah negara Arab dengan Israel. Perusahaan penerbangan India, Air India memiliki izin khusus untuk terbang melalui wilayah udara Saudi antara India dan Israel.
"Semuanya diperkirakan akan segera berubah," kata laporan Israel Hayom.
Normalisasi hubungan antara beberapa negara Arab dengan Israel membuat warga Palestina geram. Sejumlah pemimpin Palestina mengatakan bahwa mereka telah berkhianat dan tidak mendukung kemerdekaan Palestina.
Sumber: m.republika.co.id
Artikel Terkait
Israel Hapus 2 Nama Kunci Iran dari Daftar Buruan: Peran Rahasia Pakistan Terungkap
Iran Klaim Tembak Jatuh F-18 AS Senilai Rp1 Triliun: Video Detik-Detik Serangan dan Gelombang Rudal Poros Perlawanan
5 Syarat Iran Akhiri Perang: Tolak Gencatan Senjata AS, Ini Tuntutan yang Bikin Dunia Tegang
USS Gerald Ford Ditarik dari Iran: Kelemahan Fatal Kapal Induk Termahal AS Terbongkar!