Ia kemudian menambahkan satu nama yang membuat janji reforma agraria pemerintah terdengar sumbang.
"Bahkan termasuk keluarga Prabowo juga salah satu dari yang menguasai tanah dalam skala yang sangat luas," bebernya.
Fakta ini menciptakan sebuah paradoks besar.
Bagaimana mungkin pemerintah serius memberantas ketimpangan penguasaan lahan jika pemimpin tertingginya sendiri merupakan bagian dari masalah yang hendak diselesaikan?
Janji Tinggal Janji? Skeptisisme Menguat!
Kritik AGRA tidak berhenti sampai di situ.
Mereka menilai belum ada satu pun langkah serius dari pemerintahan Prabowo untuk membuktikan komitmennya.
Klaim untuk menuntaskan masalah agraria dianggap bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan.
Menurut Saiful, praktik perampasan tanah dan penggusuran paksa atas nama proyek strategis nasional justru masih terus terjadi di berbagai daerah.
Hal ini menimbulkan skeptisisme publik terhadap keseriusan agenda reforma agraria yang digaungkan.
AGRA pun mendesak solusi nyata, bukan sekadar retorika politik.
Mereka menuntut pemerintah segera menjalankan reforma agraria sejati, bukan versi kosmetik yang hanya menyentuh permukaan.
"Jadi yang harus dilakukan negara sebenarnya adalah segara menjalankan reforma agraria sejati. Sebab masalahnya adalah struktural maka upaya penyelesaiannya juga harus struktural," pungkas Saiful.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Hary Tanoe & Dokumen Epstein: Benarkah Beli Rumah Trump dan Temui CIA Indonesia?
Ressa Rizky Rosano Buka Suara: Benarkah Sudah Nikah & Punya Anak di Usia 17 Tahun?
PPATK Bongkar Skandal Emas Ilegal Rp155 Triliun: Devisa Negara Bocor ke Singapura?
Habib Bahar bin Smith Ditahan! Ini Pasal Berat yang Menghantuinya