Hendro menjabarkan, total potensi transaksi Paviliun Indonesia pada penyelenggaraan pameran ini mencapai USD 677 ribu. Nilai tersebut terdiri dari permintaan produk wadah makanan plastik dan produk rumah tangga senilai USD 570 ribu, produk kesehatan senilai USD 60 ribu, produk biskuit senilai USD 45 ribu, serta transaksi ritel produk permen senilai USD 2 ribu.
“Konsumen Nigeria lebih memilih produk mamin dari negara-negara Asia karena dinilai berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan produk Eropa dan Amerika yang memiliki harga relatif lebih tinggi. Khusus untuk pembeli dari Nigeria bagian utara, sertifikasi halal pada produk Indonesia menjadi salah satu nilai tambah karena besarnya populasi muslim di wilayah tersebut,” jelas Hendro.
Hendro menekankan, upaya promosi perusahaan Indonesia termasuk para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) oleh jajaran Kementerian Perdagangan merupakan bukti bahwa peluang produk Indonesia tetap terbuka dan diminati pembeli Nigeria. Asalkan, para pelaku usaha menyediakan materi promosi dan juga waktu untuk berinteraksi dengan calon pembeli.
Sumber: suara.com
Artikel Terkait
Dana Rp28 Triliun Soros Bocor ke Indonesia: Target Rahasia dan Kontroversi Intervensi Asing
SP-3 untuk Rismon: Perlindungan Hukum atau Imunitas untuk Kasus Ijazah Palsu?
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Siswa Dipotong, Intimidasi Hingga Pencatutan Nama Menteri!
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Dipotong, Intimidasi, hingga Klaim Palsu Cucu Menteri!