Panic Buying BBM Sumatera: SPBU Penuh Antrean, Benarkah Harga Akan Naik Drastis?

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 21:25 WIB
Panic Buying BBM Sumatera: SPBU Penuh Antrean, Benarkah Harga Akan Naik Drastis?

Bagi pekerja transportasi kecil seperti penarik becak, kesulitan mendapatkan BBM langsung berdampak pada mata pencaharian. Seorang penarik becak di Selatpanjang mengaku kesulitan menemukan BBM, baik di SPBU yang antreannya panjang dengan jam operasi terbatas, maupun di kios penjual eceran yang mulai kehabisan stok. "Kalau minyak susah didapat, tentu kami yang menarik becak sangat terdampak," ujarnya.

Pernyataan Pemerintah Soal Opsi Kenaikan Harga BBM

Gelombang kepanikan ini dipicu oleh pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebut pemerintah membuka opsi menaikkan harga BBM jika harga minyak dunia rata-rata mencapai level US$92 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang sekitar US$60 per barel. Tekanan pada APBN dinilai akan serius jika hal itu terjadi.

"Kalau anggarannya sudah tidak kuat, kita harus berbagi dengan masyarakat. Artinya bisa saja ada kenaikan BBM," kata Purbaya, sambil menegaskan bahwa langkah tersebut adalah opsi terakhir dan pemerintah akan berupaya agar tidak sampai pada titik itu.

Efek Psikologis Isu BBM dan Harapan Masyarakat

Kejadian ini kembali menunjukkan sensitivitas isu energi di Indonesia. Sinyal sedikit saja tentang kemungkinan kenaikan harga langsung memicu reaksi berantai: panic buying, stok menipis, dan gangguan lalu lintas. Pesan sederhana "sebelum naik, lebih baik isi penuh dulu" tampaknya masih kuat tertanam di benak masyarakat.

Masyarakat berharap pemerintah dapat memberikan penjelasan yang jelas dan transparan mengenai kondisi pasokan dan kebijakan harga BBM ke depan untuk mencegah kepanikan yang lebih luas. Pengalaman menunjukkan, rumor kenaikan BBM sering kali menyebar lebih cepat daripada informasi resmi yang menenangkan.

Halaman:

Komentar