Gus Irfan menjelaskan konsep yang dimaksud: "Waktu itu pemerintah mengumumkan biaya haji tahun ini sekian, pembukaan pendaftaran dimulai tanggal sekian sampai tanggal sekian, silakan yang mau berangkat haji, silakan membayar semacam war tiket."
Artinya, sistem ini mengadopsi mekanisme "siapa cepat, dia dapat" layaknya membeli tiket konser musik populer. Wacana ini dianggap sebagai solusi potensial untuk memangkas antrean panjang yang selama ini menjadi keluhan utama calon jemaah haji Indonesia.
Masih Wacana, Tapi Sudah Viral di Publik
Meski telah menjadi pembicaraan hangat di masyarakat, Gus Irfan menegaskan bahwa ide perubahan sistem haji ini masih dalam tahap wacana dan pemikiran awal, belum menjadi keputusan final pemerintah.
"Apakah perlu kita memikirkan hal seperti itu lagi? Tentu ini bukan hal yang gampang untuk diputuskan. Tapi sebagai sebuah wacana tentu bisa sah-sah saja untuk kita pikirkan," katanya.
Antrean haji di Indonesia memang dikenal sangat lama, terutama akibat tingginya minat masyarakat yang tidak sebanding dengan kuota tahunan yang diberikan oleh Pemerintah Arab Saudi. Wacana sistem war tiket ini pun langsung viral dan ditunggu kelanjutannya oleh publik.
Kini, semua pihak menunggu kajian lebih mendalam dan keputusan resmi dari Kementerian Haji dan Umrah RI mengenai masa depan sistem pendaftaran haji di Indonesia.
Artikel Terkait
Trump vs. MAGA: Perang Iran yang Mengubah Pemimpin Jadi Pengkhianat di Mata Pendukung Setia
Jetour T1 Lulus Uji Ekstrem Andes & Atacama: Siap Guncang Pasar SUV Indonesia?
Viral! Momen Menpar Widiyanti Gagal Jawab Pertanyaan Anggaran DPR, Netizen: Ini Menteri?
Kasus Pemerkosaan Calon Polwan di Jambi: 3 Polisi Disanksi, 2 Dipecat, Ini Kronologi Lengkapnya