Politik Dinasti Keluarga Masud di Kaltim: Bara Kemarahan Rakyat yang Siap Meledak

- Jumat, 24 April 2026 | 07:00 WIB
Politik Dinasti Keluarga Masud di Kaltim: Bara Kemarahan Rakyat yang Siap Meledak

Suara Rakyat di Tengah Dominasi Politik Dinasti

Di tengah semua itu, rakyat seperti ikan-ikan kecil di delta Mahakam, berenang mencari ruang di antara kapal-kapal besar yang lalu-lalang. Mereka bersuara lewat aksi "Kaltim Darurat 214", menggema seperti suara burung enggang yang biasanya menjadi simbol kebebasan. Tapi kali ini, suara itu lebih mirip alarm yang diputar berulang-ulang. Didengar, tapi tak benar-benar direspons. Aparat berdiri seperti penjaga taman nasional, memastikan tidak ada yang melanggar batas, tapi tak pernah benar-benar menyentuh inti masalah di dalam hutan itu sendiri.

Ironi Kekuasaan: Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar di Tengah Ketimpangan

Simbol paling mencolok dari ironi ini meluncur di jalanan: mobil dinas Rp 8,5 miliar milik gubernur. Di tanah yang kaya batu bara dan minyak, kendaraan itu seperti kapal pesiar yang melintas di sungai kecil, terlalu besar, terlalu mewah, terlalu kontras dengan kehidupan di sekitarnya. Seolah-olah kekuasaan di Kaltim bukan lagi soal pelayanan publik, tapi soal siapa yang punya kendaraan paling mahal untuk melintasi jalan yang sama-sama berlubang.

Pandangan Pengamat: Ancaman Oligarki Elektoral dan Absennya Meritokrasi

Para pengamat politik pun seperti peneliti yang mencatat kerusakan ekosistem ini. Syubhan Akib melihat bahaya gurita dinasti, Musyanto mencium syahwat politik, Burhanuddin Muhtadi menyebutnya oligarki elektoral, Edward Aspinall mengingatkan patronase, dan Yenny Wahid menegaskan absennya meritokrasi. Semua itu seperti laporan ilmiah tentang satu hal: ekosistem demokrasi yang mulai kehilangan keanekaragaman.

Kesimpulan: Bara Kemarahan Rakyat Terus Menyala

Akhirnya, Kaltim berdiri seperti hutan yang tampak hijau dari jauh, tapi menyimpan ketimpangan di dalamnya. Bara tambang mungkin akan padam suatu hari, tapi bara kemarahan rakyat terus menyala. Demo berikutnya tinggal menunggu waktu, seperti musim hujan yang pasti datang. Di tengah semua metafora alam ini, satu kenyataan tetap sulit dibantah: di tanah Borneo ini, kekuasaan tak lagi mengalir seperti sungai untuk semua, tapi berputar seperti pusaran, mengunci dirinya di lingkar keluarga yang sama.

(Ketua Satupena Kalbar)

Halaman:

Komentar