Saat pandemi 2020-2022, hanya sektor kesehatan dan TIK yang menikmati keuntungan. Sektor lainnya mengalami defisit. Namun, kemenangan korporasi AS tidak cukup karena Rusia dan China tetap bertahan. Perang militer dengan dampak lebih luas pun terjadi. Dalam buku "Prahara Bangsa", hal ini dilukiskan sebagai "Kudeta Korporasi di Balik Pandemi". Dunia sebenarnya hanya dikuasai segelintir orang yang mengendalikan industri keuangan, militer, teknologi, dan kesehatan.
Dampak Krisis 5F terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran
Situasi global ini tidak menguntungkan pemerintahan Bogi yang sejak awal dirundung isu kecurangan Pemilu 2024. Krisis kepercayaan, ekonomi, dan politik telah menciptakan ketidakpastian. Presiden Prabowo membantah Indonesia berada dalam situasi gelap, namun indikator menunjukkan sebaliknya: nilai tukar melemah, harga BBM meroket, sikap saling percaya memburuk, media sosial kisruh, dan langit Indonesia diizinkan untuk pesawat AS melintas. Hanya masalah pangan (food) yang masih relatif stabil.
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebagai Penyelamat
Dalam konteks pangan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) meningkat signifikan. Pada musim Ramadhan dan Idul Fitri 2026, harga beras relatif stabil karena pasokan terjamin. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengklaim CBP mencapai 5 juta ton, produksi beras 2025 sebesar 34,69 juta ton, PDB Pertanian 5,78 persen, dan Nilai Tukar Petani (NTP) 125,35. Namun, data ini dipertanyakan karena tidak menggambarkan kondisi mikro petani, seperti daya beli petani subsektor tanaman pangan yang NTP-nya hanya 99,86.
Menurut FAO, akses pangan sehat di Indonesia lebih mahal (USD 4,75 per hari) dibandingkan negara berpendapatan tinggi (USD 4,22 per hari). BPS juga melaporkan angka kekurangan gizi mencapai 8,27 persen. Meskipun produktivitas petani meningkat menjadi 6,355 ton/ha, kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras menjadi dilema karena berpotensi mendorong inflasi dan lebih menyelamatkan penggilingan modern.
Kesimpulan: Antara Ketahanan Pangan dan Krisis Kepercayaan
CBP sebesar 5 juta ton menunjukkan ketahanan pangan yang baik, setara dengan ketersediaan pangan terjamin hingga 11 bulan ke depan. Hal ini membuat rakyat tidak cemas akan kekurangan beras, yang merupakan politik perut. Namun, masyarakat kelas lain masih berhadapan dengan masalah nilai tukar, harga BBM, dan listrik yang melambung.
Pemerintahan Bogi mungkin diselamatkan oleh sektor pangan berkat kinerja Amran Sulaiman, namun belum tentu selamat di sektor lain. Bogi harus segera berbenah diri, membuktikan bahwa tudingan miring adalah salah, dan meningkatkan legitimasi publik. Jika tidak, harga kepercayaan publik jauh lebih mahal daripada HET beras. Krisis kepercayaan, amburadul, dan pembangkangan sosial harus segera diatasi. Ini adalah kesempatan bagi Bogi untuk membuktikan bahwa mereka sungguh-sungguh menjalankan amanat UUD 1945 dan aspirasi masyarakat luas. Jika gagal, sejarah akan mencatat akhir kekuasaan yang kelam.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Siap Serbu Monas! 4.000 Bus Bergerak ke Jakarta untuk May Day 2026
Anggota TNI AL Gebrak Ambulans di Surabaya, Begini Kronologi Lengkapnya!
Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat Rp27,5 M Tembus Rp700 Ribu per Pasang: Publik Minta Transparansi!
5 Fitur Canggih Mitsubishi Xforce yang Bikin Aktivitas Harian Makin Praktis dan Aman