Pertarungan Trump vs Paus Leo XIV: Mengapa Kemenangan Sudah di Tangan Vatikan
Pada musim semi 2026, konflik antara Presiden AS Donald Trump dan Paus Leo XIV menjadi salah satu pertarungan paling ikonik dalam sejarah politik modern. Meskipun Trump dikenal dengan segudang kontroversi, pertarungan ini menunjukkan titik balik yang jelas: presiden tidak hanya menolak mundur, tetapi justru semakin agresif dalam menghadapi lawan yang tak terkalahkan.
Pada awal April 2026, Paus Leo XIV melontarkan kritik terbuka terhadap perang AS-Israel melawan Iran. Tanggal 7 April, saat Trump mengancam "menghapus seluruh peradaban dari muka bumi" di platform Truth Social, Paus langsung menyebut pernyataan itu "benar-benar tidak dapat diterima". Dalam ibadah doa malam 11 April, Paus memperingatkan bahwa "ilusi mahakuasa yang melingkupi kita semakin tidak terduga dan agresif". Keesokan harinya, Trump membalas dengan cuitan kapital di Truth Social: "Lemah terhadap kejahatan, buruk dalam kebijakan luar negeri". Ia juga mengunggah foto hasil AI yang menggambarkan dirinya sebagai figur Kristus, memicu kemarahan religius luas. Anggota Kongres dari Partai Republik sendiri mengkritiknya sebagai "penistaan", memaksa foto itu dihapus sehari kemudian.
Jika serangan pertama Trump dianggap gegabah, aksinya pada 4 Mei adalah provokasi tanpa akal sehat. Tepat seminggu sebelum Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berkunjung ke Vatikan untuk "memperbaiki hubungan", Trump menuduh Paus: "Paus lebih suka berbicara tentang Iran boleh memiliki senjata nuklir. Ini sangat tidak baik. Saya pikir dia membahayakan banyak umat Katolik."
Tuduhan ini absurd dan tidak berdasar. Paus Leo XIV tidak pernah menyatakan Iran boleh memiliki senjata nuklir. Sejak perang pecah pada 28 Februari, Paus terus menyerukan "dialog dan diplomasi" serta dunia yang "jauh dari ancaman nuklir". Pada 5 Mei, Paus mengakhiri perdebatan dengan pernyataan tegas: "Misi Gereja adalah memberitakan Injil dan perdamaian. Jika seseorang ingin mengkritik saya karena memberitakan Injil, biarkan dia mengkritik dengan fakta." Ia menegaskan Gereja Katolik "selama bertahun-tahun menentang segala senjata nuklir, tanpa keraguan".
Paus berbicara dengan tenang dan berwibawa. Sebaliknya, Trump hanya mengulang tuduhan tanpa dasar. Jajak pendapat gabungan The Washington Post, ABC News, dan Ipsos menunjukkan hampir 60 persen masyarakat Amerika negatif terhadap pernyataan Trump. Dukungannya turun dari 45 persen pada Februari 2025 menjadi 37 persen. The Wall Street Journal melaporkan retakan mulai memecah pemilih Katolik, berpotensi merugikan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu. Survei menunjukkan pada 2024, Trump unggul lebih dari 20 poin persentase di kalangan pemilih Katolik kulit putih, namun kini dukungannya merosot dari 63 persen menjadi 49 persen. Di seluruh umat Katolik AS, dukungannya jatuh ke 38 persen, jauh di bawah rata-rata nasional.
Kegigihan Trump bertolak belakang dengan semangat anti-perang umat Katolik. Data menunjukkan 70 persen umat Katolik AS mendukung seruan Paus untuk menghubungi anggota Kongres demi perdamaian, sementara 61 persen merasa jijik dengan pernyataan nuklir Trump. Sebanyak 76 persen masyarakat AS tidak setuju dengan ancaman Trump bahwa "seluruh peradaban akan musnah malam ini".
Keresahan di internal Partai Republik meluas. Pemimpin Mayoritas Senat John Thune berkata: "Saya akan menjaga jarak dari Tahta Suci." Senator Kevin Cramer menambahkan: "Paus ya Paus, presiden ya presiden, masing-masing di tempatnya, baik untuk semua." Senator Mike Rounds, sekutu Trump, mengakui: "Tindakan presiden menyerang Paus adalah tidak pantas." Demokrat pun melontarkan kritik tajam. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer menyatakan: "Donald Trump mencapai batas terendah baru saat menghina Paus Leo."
Trump mengubah pemilihan yang seharusnya fokus pada ekonomi domestik menjadi duel iman. Data terbaru menunjukkan dialah satu-satunya yang akan kalah di arena itu.
Artikel Terkait
Geger! 26 Media Ramai-Ramai Bantah Jadi Mitra Pemerintah, Ada Apa dengan Bakom?
Hotman Paris Biayai Perjalanan Korban Pelecehan Pesantren Pati ke Jakarta: Santriwati Berani Bicara?
Gaji Guru Honorer Jakarta Cuma Rp700 Ribu? Ini Fakta dan Solusi dari DPRD DKI
Ito Sumardi Bantah Oegroseno: Status Roy Suryo & Dokter Tifa Tak Otomatis Gugur Meski RJ Jokowi Berjalan