SEBAGAI alumni Menteng Boys Football Association (MBFA), saya mendukung penuh Persija Jakarta. Harapan besar tertuju pada kemenangan Persija dan kembalinya gelar juara seperti era kepemimpinan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Masih segar dalam ingatan publik ketika Anies dilarang turun ke lapangan oleh Paspampres Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Perlakuan ini terasa janggal bagi banyak kalangan. Namun, Jakmania dan tim Persija tetap hadir ke Balai Kota dan disambut dengan penuh kegembiraan. Anies sendiri memilih tidak memperpanjang polemik dan enggan mengomentari insiden tersebut.
Persija adalah kebanggaan ibu kota. Saya telah menonton Persija sejak SD, mulai dari era Andi Lala, Sutan Harhara, Anjas Asmara, hingga berbagai momen kejayaan saat Persija berkali-kali menjuarai kompetisi.
Ironisnya, laga besar seperti Persija vs Persib justru tidak digelar di Jakarta, melainkan dipindahkan ke Kalimantan Timur. Keputusan ini jelas merugikan Persija sebagai tuan rumah dan menjauhkan pertandingan dari basis suporter setianya. Ini adalah contoh nyata buruknya tata kelola sepak bola nasional. Liga dikelola tanpa arah yang jelas, tanpa keberpihakan pada fair play, dan sering mengabaikan kepentingan klub maupun suporter.
PSSI terlalu sering menunjukkan ketidakmampuan dalam mengelola sepak bola secara profesional. Kompetisi kehilangan marwah ketika keputusan penting justru terasa tidak masuk akal bagi publik sepak bola Indonesia.
Artikel Terkait
Demo DJP Sumut: Buruh Bongkar Skandal Perusahaan Fiktif & Dugaan Intimidasi Whistleblower Berani Tolak Suap Rp25 M
Brigpol Arya Gugur Ditembak Saat Cegah Curanmor! Rekaman CCTV Ungkap Detik-Detik Mencekam
Viral! Akun X Jepang Salah Sangka, Rumah Jokowi Dikira Rumah Angker Buat Uji Nyali
Harga Pertalite Ternyata Lebih Mahal dari Pertamax? Ini Fakta di Balik Strategi Bisnis Pertamina