Namun tetap saja, kata dia, misi perdamaian ini tidak cukup dilakukan oleh Indonesia sendiri. Perlu dilibatkan negara besar lainnya, agar bersikap seperti Indonesia yaitu politik bebas aktif, yang tidak selalu diartikan bersikap netral.
"Tetapi untuk kasus perang Rusia Ukraina (Nato) ini, Indonesia harus memposisikan diri netral dan mengajak sebanyak mungkin negara lain untuk anti perang karena perang adalah kebodohan dan jalan setan menuju kehancuran bumi dan umat manusianya," ungkap Didik.
"Indonesia layak tampil sebagai negara yang berpengaruh di dunia untuk menjalankan misi perdamaian ini. Sejarah peranan Indonesia di dalam diplomasi dan perdamaian sudah dikenal dunia dimana Bung Karno adalah tokoh dunia yang sangat dikenal karena berdiri di tengah konflik ideologi dunia Barat dan Timur yang mengerikan. Jaman Soeharto juga banyak tampil diplomat-diplomat hebat yang mampu berperan mendamaikan."
Sebelumnya, Persiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) telah sampaikan sedang memulai misi perdamaian ke Ukraina. Ia pun mengunjungi Kyiv, Ukraina, menaiki kereta luar biasa dari Peron 4 Stasiun Przemysl Glowny, Przemysl, Polandia, bersama rombongan terbatas menuju.
"Kami memulai misi perdamaian ini dengan niat baik. Semoga dimudahkan," tulis Jokowi unggahan di akun resmi Instagram @jokowi dikutip di Jakarta, Rabu 29 Juni 2022.
Presiden Jokowi telah bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Dikatakan bahwa Jokowi menjadi pemimpin Asia pertama yang mengunjungi Ukraina.
Setelahnya ia melanjutkan perjalanan ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin.
Sumber: genpi.co
Artikel Terkait
Ancaman Pistol Ussama ke Bayi Ressa: Fakta Kelam yang Ditutupi Denada Selama 24 Tahun
Santunan Rp15 Juta Cair! Ini Rincian Bantuan Lengkap Kemensos untuk Korban Banjir Sumatra
Misteri Bercak Darah di Kamar Lula Lahfah Terungkap: Ini Kata Puslabfor Polri
Tessa Mariska Bocorkan Identitas Ayah Kandung Ressa: Rapper Eksis Ini Diduga Kuat!