Sosok kedua yakni Aisyah binti Muzzahid, seorang perempuan yang dipuji dalam Al Quan karena kemandirian dan ketegasan imannya dalam melawan raja yang begitu zalim, yakni raja fir aun yang dilaknat Allah swt.
Kemudian ada sosok Siti Maryam, seorang perempuan terbaik sepanjang massa yang dengan ketegasannya menjaga kehormatan dirinya sehingga Allah memberikan dia anugerah dengan putra yang saleh, yaitu Nabi Isa.
“Itu merupakan bukti perempuan mempunyai kapabilitas yang sama dengan laki laki dan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memimpin. Karena dalam Islam, landasan untuk jadi pemimpin adalah kemaslahatan umat,” katanya.
Aktivis perempuan PBNU ini menyadari saat ini masih terjadi pro kontra di masyarakat terkait apakah seorang perempuan boleh menjadi pemimpin di ruang publik. Ia pun berharap penjelasannya ini bisa menjadi jawaban bagi perdebatan itu.
“Jika esok masih ada yang bertanya apakah perempuan boleh mengisi kepemimpinan dalam ruang publik, jawabannya adalah boleh,” ujarnya.
Sumber: genpi.co
Artikel Terkait
Ijazah Jokowi Akhirnya Terbuka: Apa yang Ditemukan KPU dan Mengapa Bonatua Masih Penasaran?
Isi Surat Rahasia Ammar Zoni ke Prabowo: Grasi atau Rehabilitasi?
Hyundai Targetkan Jual 2000+ Unit di IIMS 2026, Ini Model Andalan untuk Mudik Lebaran
Target Gila Hyundai di IIMS 2026: Serbu 2000+ Unit dengan Strategi Ramadan & Mobil Mudik Terlengkap!