Gatot Nurmantyo, dalam penyampaikannya mengutip kata-kata seorang pejuang wanita di masa Kerajaan Aceh, Laksamana Malahayati, saat membendung kedatangan para kolonialisme.
“Karena kunyatakan perang pada bangsa mana pun yang membawa sengsara negeri ini. Dan bila laut yang medatangkan para perampas itu ke Nangroe, maka laut itulah yang akan kujadikan kuburan mereka,” katanya.
Ucapan Laksamana Malahayati itu benar-benar dibuktikan dengan menghabisi Kapten Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman pemimpin ekspedisi pelayaran Belanda.
“Laksamana Keumalahayati, ini contoh seorang perempuan, janda, pemimpin pasukan para janda Inong Bale. Ini seorang Melayu Aceh wanita bisa melawan seperti ini, apalagi laki-lakinya,” ujar Gatot.
Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo juga mengingatkan tentang Pasal Hak Undang-undang Adat tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Pada saat Proklamator Soekarno membacakan teks Proklamasi pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia, sejatinya negara Indonesia saat itu belum ada.
Pasal tersebut saat ini seringkali diingkari, dengan dalih proyek strategis nasional (PSN) dan hal itu diwujudkan dalam Undang-undang Cipta Kerja.
Menurut Gatot Nurmantyo, andai proyek strategis nasional dijelaskan kepada masyarakat bahwa itu bertujuan demi kesejahteraan rakyat, maka rakyat tentu akan mendukung.
Sayangnya, penjelasan PSN hanya dijelaskan sebagai proyek hilirisasi Industri saja tanpa menyinggung lapangan kerja buat rakyat atau pun lapangan kerja buat mereka.*
Sumber: disway
Artikel Terkait
Bus Jemaah Umrah Indonesia Terbakar di Madinah, Begini Kronologi Selamatnya 24 WNI
Turis Australia Diperkosa Satpam di Bali: Kronologi Mengerikan di Balik Kamar Mandi Klub Malam
Presiden Prabowo Beri Perintah Rahasia ke Bahlil: Ini Strategi Darurat Minyak Imbas Perang Timur Tengah
Bahlil Larang Panic Buying BBM & LPG: Ini Dampak Perang Iran dan Cara Bijak Hemat Energi