Soenarko mencontohkan, saat melakukan peninjauan di beberapa wilayah Desa Kohod untuk mengetahui nasib masyarakat, ia dan rombangan dikuntit para preman dan polisi yang diduga orang orang “piaran” Aguan.
”Terpaksa kita pindah ke titik lain,” kata Soenarko.
Namun dititik baru, dirinya bersama rombongan kembali diganggu oleh kelompok Preman.
Menurut Soenarko, dari pengalaman itu, terkesan negara ini tak punya kendali terhadap orang-orang seperti Aguan.
“Memang negara ini punya Aguan. Negara ini punya pemerintahan. Hanya saja dimana tanggung jawab pemerintah resmi,” geram Soenarko.
Soenarko juga menyayangkan dukungan para pejabat korup terhadap Aguan dengan menyebut pagar laut dibangun atas swadaya masyarakat.
“Mana mungkin, masyarakat punya uang segitu banyak untuk membangun pagar laut 30 km dengan biaya miliaran. Untuk makan saja susah,” kata dia.
“Inilah aparat desa bukan bela rakyatnya, tapi dia bela perampas lahan rakyatnya,”
Miris memang, Pemerintah pusat dan Daerah, sama saja. Mereka diam saat masyarakat ditindas.
“Ini bukan sekedar penindasan, tapi penindasan biadab.Bayangkan saja, ada tanah yang belum dibayar diuruk. Ada tanah yang belum dibayar, tapi surat tanahnya sudah diambil,” kata Soenarko
“Terahir saya dengar, aparat desa bagi-bagi beras dari Aguan,” kata Soenarko.
Mantan Sekretaris BUMN, Said Didu juga menyorot bansos beras oleh PIK.
Said Didu menyindir bahwa cara tersebut adalah gaya dari mantan Presiden Jokowi.
Menurutnya ini adalah gaya dari Jokowi yang memberikan sogokan sebelum akhirnya dirampok.
“Gaya Mulyono menyogok rakyat untuk selanjutnya dirampok harta dan masa depannya,” ujar Said Didu.
Sumber: Sawitku
Artikel Terkait
Prajurit TNI AL Baru Dilantik Tewas di Kapal Perang, Keluarga Temukan Luka Lebam dan Darah di Selangkangan
Rupiah Anjlok ke Rp17.420! Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah, Apa yang Terjadi?
Rupiah Anjlok ke Rp17.400! Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, IHSG Ikut Merah
Bukan Bos TV! Ternyata Ini Sosok di Balik Masuknya McDonalds ke Indonesia yang Kembali Viral