Mungkin karena itulah Jokowi banyak melakukan kebohongan, untuk menutup kebohongan-kebohongan sebelumnya.
Alhasil, publik tak mau percaya begitu saja ketika Bareskrim Polri menyatakan ijazah Jokowi asli.
Polemik pun akan terus muncul secara berkepanjangan. Semua karena ulah Jokowi sendiri.
Adapun mereka yang mempersoalkan keaslian ijazah Jokowi bersiaplah masuk penjara.
Sebab, dengan dalih buat pembelajaran, Jokowi tak akan mencabut laporan yang sudah terlanjur ia layangkan ke Polda Metro Jaya.
Ada lima orang yang dilaporkan Jokowi, yakni bekas Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, ahli digital forensik Rismon Sianipar, dokter Tifauzia Tyassuma, serta sosok berinisial ES dan K.
Kelimanya dilaporkan atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik menggunakan media elektronik.
Sabda Pandhita Ratu
Jokowi lahir di Solo, Jawa Tengah, 21 Juni 1961 dengan etnis Jawa, meskipun ada yang menduga blasteran Jawa-Tionghoa.
Mungkin karena beretnis Jawa itulah Jokowi kerap melakukan hal-hal yang diasosiasikan dengan tradisi Jawa.
Misalnya, mengambil keputusan-keputusan penting seperti reshuffle kabinet pada hari Rabu.
Namun, satu hal justru diingkari oleh Jokowi yang oleh Bahlil Lahadalia sempat disebut sebagai Raja Jawa. Yakni, filosofi Jawa.
Raja-raja Jawa dahulu kala memegang teguh filosofi “sabda pandhita ratu tan kena wola-wali”.
Artinya, perkataan seorang raja atau ratu dan brahmana atau guru tidak boleh bolak-balik.
Sebaliknya dengan Jokowi. Kata-katanya sering kali mencla-mencle. Esuk dhele sore tempe (pagi kedelai sore tempe).
Maka jangan salahkan orang lain ketika mereka tak percaya lagi kepada Jokowi. Semua, sekali lagi, akibat ulah wong Solo itu sendiri. ***
Artikel Terkait
Habib Bahar bin Smith Ditahan! Ini Pasal Berat yang Menghantuinya
Rahasia Pertemuan Prabowo dengan Tokoh Kunci: Isu Polri, Gaza, dan Pemberantasan Korupsi Terbongkar!
Ancaman Pistol Ussama ke Bayi Ressa: Fakta Kelam yang Ditutupi Denada Selama 24 Tahun
Santunan Rp15 Juta Cair! Ini Rincian Bantuan Lengkap Kemensos untuk Korban Banjir Sumatra