Pemerintah selalu berdalih bahwa pembangunan akan berdampak jangka panjang. Tapi rakyat butuh makan hari ini.
Butuh pekerjaan yang layak, bukan sekadar lapangan kerja semu dari proyek padat karya. Jika pembangunan tidak mengangkat kesejahteraan, lalu untuk siapa semua ini dibangun?
Ilusi Pertumbuhan, Nyata Kemiskinan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih berada di kisaran 5 persen. Tapi pertumbuhan itu tak inklusif.
Ia hanya memperkaya segelintir elite yang punya akses ke kekuasaan dan proyek. Ketimpangan tetap tinggi.
Distribusi aset dan peluang masih timpang. Maka ketika Bank Dunia membuka data kemiskinan berdasarkan standar global, tirai optimisme yang selama ini dijaga rapat-rapat langsung tersingkap.
Indonesia miskin secara struktural. Bukan sekadar kekurangan uang, tapi kekurangan visi.
Pemerintah lebih memilih mengukur kemajuan lewat jumlah proyek, bukan kualitas hidup rakyat.
Ketika anak-anak kekurangan gizi di NTT, pemerintah meresmikan Istana Negara baru.
Ketika petani menjerit karena harga gabah anjlok, pemerintah sibuk mengundang investor ke IKN.
Wajah Buram Republik
Esai ini bukan ajakan untuk menolak pembangunan. Tapi mari kita bicara kejujuran.
Jika utang dibuat untuk membangun, maka ukuran keberhasilannya bukan tinggi menara atau panjang jalan tol.
Ukurannya sederhana: apakah rakyat bisa hidup lebih baik?
Hari ini, jawabannya: tidak. Utang bertumpuk, tapi kemiskinan makin dalam. Pembangunan masif, tapi keadilan sosial kian jauh.
Jokowi membangun banyak hal, tapi tak membangun kesejahteraan. Ia membangun jalan, tapi tak memberi arah.
Dan kelak, sejarah akan mencatat: Indonesia pernah dipimpin oleh seseorang yang sangat percaya pada beton, tapi melupakan perut. ***
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Pertemuan Rahasia di Solo: Pengamat Bongkar Alasan Sebenarnya Wasekjen Demokrat Temui Jokowi
Rieke Diah Pitaloka Bongkar Data BPJS: Benarkah Separuh Rakyat Indonesia Miskin?
Wali Kota Bekasi Nyaris Kena Golok Saat Tertibkan PKL: Ini Kronologi Lengkap dan Responsnya!
PAN Usung Prabowo-Zulhas Dua Periode: Akankah Koalisi Gemuk Prabowo Pecah?