"Jadi Akpol 89, 90 numpuk. Ini artinya kan yang lebih muda belum bisa naik dulu nih jabatan bintang itu," jelas Wenas.
Penumpukan ini terjadi karena Kapolri yang meloncati beberapa angkatan harus mengakomodasi para seniornya ke jabatan-jabatan strategis seperti Wakapolri.
Setelah itu, barulah gerbong angkatan yang setara dan lebih muda bisa bergerak.
Situasi saat ini menunjukkan penumpukan di angkatan 1989 dan 1990 yang belum sepenuhnya terakomodasi, sehingga menghambat promosi angkatan 1991 (angkatan Kapolri) dan angkatan-angkatan di bawahnya.
Kondisi ini menciptakan "kemacetan internal" yang bisa berdampak luas pada motivasi dan jenjang karir para perwira.
Wenas menegaskan bahwa insiden demonstrasi yang berujung kerusuhan belakangan ini, barangkali, hanya kebetulan terjadi di tengah kondisi internal yang stagnan.
Ia menduga, "Ada ketidakpuasan awalnya tanpa berpikir terlalu jauh bahwa ternyata dampaknya sampai seperti ini dari internal."
Namun, ia menekankan, ini tidak ada kaitannya dengan kinerja buruk Kapolri.
"Jangan dikaitkan dengan kerusuhan karena kan kalau dikaitkan seolah-olah karena kerusahan ini kapolrinya brengsek maka harus dipecat. Enggak begitu. Sial aja ada kerusuhan gitu," tegas Wenas.
Menurutnya, pergantian Kapolri adalah kebutuhan objektif dan organisasional untuk mengurai kemacetan promosi di level perwira tinggi dan membuka ruang bagi generasi penerus di tubuh Polri. Kompolnas pun, kata Wenas, turut melihat adanya stagnasi ini.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?