Strategi Serang Balik Menggunakan Buku Fukuyama
Rocky lalu menemui Prabowo Subianto di kediamannya di Kertanegara dengan membawa satu ide strategi. Ia mengusulkan untuk menggunakan buku Francis Fukuyama berjudul The Great Disruption sebagai alat serangan balik di panggung debat.
Menurut Rocky, buku tersebut membahas arah negara dan politik global, sebuah topik yang seharusnya dikuasai oleh seorang presiden petahana.
"Bawa buku itu di atas panggung. Ketika bapak diminta untuk presentasi, angkat buku itu. Bilang begini, 'Pak Jokowi, buku ini, buku Disruption dari Francis Fukuyama, dibaca oleh semua presiden dunia dan calon presiden.' Terus pak Prabowo tanya saja, 'Bagian mana yang menarik bagi Pak Jokowi?'" ungkap Rocky menirukan usulan strateginya.
Alasan Prabowo Subianto Menolak Strategi Tersebut
Namun, usulan strategi serang balik dari Rocky Gerung itu akhirnya ditolak oleh Prabowo Subianto. Prabowo memilih untuk menahan diri dan tidak melancarkan serangan seperti yang diusulkan.
Rocky menjelaskan alasan penolakan tersebut, "Presiden Prabowo memang punya semacam sense of keperwiraan itu. Dia tidak ingin menghina Presiden Jokowi di atas panggung."
Penolakan ini menunjukkan batas etika yang dipegang oleh Prabowo dalam berkompetisi, bahkan di tengah tensi debat Pilpres yang tinggi. Kisah ini mengungkap sisi lain dari dinamika dan pertimbangan di balik panggung debat capres 2019.
Artikel Terkait
Rocky Gerung Peringatkan Bahaya Ini Jika Yogyakarta Kehilangan Jiwa Kritisnya
Pilpres 2029: Prabowo Diprediksi Tak Tertandingi, Lawan Hanya Menabung Popularitas untuk 2034?
Jokowi Dukung Kembalikan UU KPK Lama: Pencitraan atau Aksi Nyata?
Purbaya Yudhi Sadewa Banjir Pujian, Warganet: Sombongnya Kelas! - Ini Alasannya