Akademisi Diharapkan Jadi Penjernih, Bukan Pengkeruh
Lebih lanjut, Haris mengingatkan agar kritik tidak berkembang menjadi provokasi yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional. Peran akademisi, menurutnya, seharusnya menjadi penjernih dalam dinamika politik.
"Akademisi adalah rujukan moral dan intelektual publik. Kalau yang disampaikan lebih banyak opini politis daripada analisis ilmiah, maka yang terjadi adalah bias, bukan pencerahan," kata Haris.
Pemerintah Dinilai Fokus pada Pembangunan
Di sisi lain, Haris menilai pemerintah saat ini tengah fokus menjalankan agenda pembangunan dan menjaga stabilitas di tengah tantangan global yang kompleks. Oleh karena itu, kritik yang dilontarkan diharapkan bersifat konstruktif dan solutif.
"Kritik silakan, tapi harus solutif dan memperkuat, bukan sekadar menjatuhkan," pungkasnya.
Latar Belakang Pernyataan Ubedilah Badrun
Pernyataan yang dikritik KNPI ini berasal dari pernyataan Ubedilah Badrun dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Forum Keadilan TV. Dalam diskusi tersebut, Ubedilah secara lantang menyebut pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki cacat bawaan dan telah memperburuk situasi ekonomi, demokrasi, dan HAM, sehingga menjadi beban bagi bangsa Indonesia.
Artikel Terkait
Perebutan Tahta NasDem: Bisnis Surya Paloh Kolaps, Siapa yang Akan Merebut Kendali?
Prabowo Diminta Tak Reaktif ke JK: Strategi atau Penolakan Halus?
Hasan Nasbi Bongkar Pernyataan Saiful Mujani: Ajakan Jatuhkan Pemerintah atau Bebas Berpendapat?
Jusuf Kalla Didesak Temui Prabowo: Mengapa Kritik Langsung di Istana Dinilai Lebih Efektif?