Oleh karena itu, Efriza menilai kemarahan JK di depan publik terhadap Jokowi bertujuan untuk mempertegas kembali posisinya dalam peta politik nasional.
"Ini juga merupakan strategi komunikasi politik JK untuk menegaskan legitimasi historis dan membangun tekanan moral kepada pihak-pihak tertentu, terutama pendukung loyal Jokowi," tuturnya.
Lebih lanjut, Magister Ilmu Komunikasi Politik Universitas Nasional (UNAS) itu memperkirakan bahwa JK sedang menegur Jokowi secara langsung. Tujuannya adalah mengingatkan para pendukungnya agar tidak mengusik dirinya.
"Ini menunjukkan ketegangan JK yang tidak lagi sepenuhnya takut atau khawatir, serta tidak mau menutupi peran besarnya dalam karier Jokowi. Sekaligus menegaskan bahwa JK memiliki peran penting dalam perjalanan politik Jokowi," urainya.
"Jika tidak bisa membalas jasa kepada JK, maka sebaiknya diam. Itulah pesan tersurat dari pernyataan JK," demikian Efriza menambahkan.
Artikel Terkait
Jusuf Kalla Buka Suara: Kekecewaan Pribadi atau Beban Sejarah yang Menghantui Jokowi?
Kontroversi Bahlil: Benarkah Kebijakan ESDM Baru Tricky dan Picu Penurunan Kepercayaan Publik?
UU PPRT Akhirnya Sah! Ini 12 Hak Pekerja Rumah Tangga yang Tak Bisa Lagi Diabaikan
Logo Babi di Acara Maulid Nabi: Intrik Politik atau Pelecehan Agama? Ini Analisis dan Tuntutannya