“Demikian juga Ganjar bahwa barusan dibaca kesimpulan sekarang sok-sokan meminta supaya dielu-elukan kembali dengan dukungan komunitas religius,” tambah Rocky.
Menurut Rocky, ulah para pendukung dua sosok tersebut dikarenakan tidak mampu lagi membuat ide.
Akhirnya sinyal-sinyal konservatif digunakan.
“Tapi memang nggak mampu lagi mengola ide maka sinyal-sinyal yang paling konservatif ditaruh disitu karena seolah-olah dengan sinyal itu moslem society menganggap rahmat untuk presiden diberikan pada Ganjar. Ini konyol juga,” Jelas Rocky.
Baca Juga: Yang Kemarin Taruhan Alphard Mohon Siap-siap! Selain Jusuf Kalla, Dua King Maker Lain Bisa Dukung Anies Baswedan Jadi Calon Presiden
Menurut Rocky, penyamaan Jokowi-Ganjar dengan tokoh besar Islam tadi hanyalah menjadi bahan olok-olok karena tidak mungkin untuk terjadi.
“Kita masuk dalam yang disebut The Politics of Demagogy. Menyebut Presiden Jokowi setara Umar Bin Khattab, Ganjar dengan kualitas Nabi. Itu bukan hanya sekadar upaya untuk mengeluelukan seseorang tapi juga mengolok-plok karena nggak mungkin,” tegas Rocky.
Sumber: jpnn.com
Artikel Terkait
Misteri Pertemuan Solo: Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Bertemu Jokowi, Apa yang Dibahas?
6 Versi Ijazah Jokowi Terungkap: Benarkah Ada yang Asli dari Polda Metro Jaya?
PKS di Pilkada DPRD: Pilih Kekuasaan Sekarang atau Menang di 2029?
Ahok Bongkar Alasan Elite Ingin Pilkada DPRD: Sistem Ini Dibuat untuk Curang!