“Demikian juga Ganjar bahwa barusan dibaca kesimpulan sekarang sok-sokan meminta supaya dielu-elukan kembali dengan dukungan komunitas religius,” tambah Rocky.
Menurut Rocky, ulah para pendukung dua sosok tersebut dikarenakan tidak mampu lagi membuat ide.
Akhirnya sinyal-sinyal konservatif digunakan.
“Tapi memang nggak mampu lagi mengola ide maka sinyal-sinyal yang paling konservatif ditaruh disitu karena seolah-olah dengan sinyal itu moslem society menganggap rahmat untuk presiden diberikan pada Ganjar. Ini konyol juga,” Jelas Rocky.
Baca Juga: Yang Kemarin Taruhan Alphard Mohon Siap-siap! Selain Jusuf Kalla, Dua King Maker Lain Bisa Dukung Anies Baswedan Jadi Calon Presiden
Menurut Rocky, penyamaan Jokowi-Ganjar dengan tokoh besar Islam tadi hanyalah menjadi bahan olok-olok karena tidak mungkin untuk terjadi.
“Kita masuk dalam yang disebut The Politics of Demagogy. Menyebut Presiden Jokowi setara Umar Bin Khattab, Ganjar dengan kualitas Nabi. Itu bukan hanya sekadar upaya untuk mengeluelukan seseorang tapi juga mengolok-plok karena nggak mungkin,” tegas Rocky.
Sumber: jpnn.com
Artikel Terkait
Partai Demokrat Bongkar Standar Ganda AS-Israel: Serangan ke Iran Picu Terorisme Baru?
Innalillahi! Try Sutrisno Wafat: Kisah Wapres ke-6 RI dari Medan Perang ke Istana
Rocky Gerung Peringatkan Prabowo: Risiko Jadi Mediator Iran-AS dan Fakta Tuduhan Agen Amerika
PMI Investasi Rp 5,3 Triliun di Indonesia: Sampoerna Jadi Pusat Ekspor Global untuk 30+ Negara?