"Karena ada banyak yang tidak pasti, kalau begitu cara kita berpikir," lanjutnya.
Dalam rekaman tersebut, Fahri juga mewanti-wanti agar partai politik pengusung capres membuat strategi perjuangan yang lebih permanen, solid dan kuat. Mengingat partai-partai berkoalisi juga sebelumnya adalah musuh.
"Tapi saya ingin mewaniti-wanti temen-temen tolong bikin strategi perjuangan yang lebih permanen yang lebih solid dan yang lebih kuat," ujarnya.
"Bukankah partai-partai yang sekarang berkoalisi ini adalah partai-partai yang berkelahi selama ini, saling membunuh dan saling mentiadakan," lanjutnya.
Waketum Gelora itu mengemukakan kembali situasi politik yang terjadi pada masa Pilpres 2014.
Saat itu para tokoh-tokoh politik yang mendukung Prabowo, sekarang beralih mendukung Anies Baswedan.
"Waktu kita mendukung dengan Pak Prabowo kita berhadapan dengan Anies Baswedan. Ketika mendukung Prabowo pada gelombang pertama 2014, Anies Baswedan mendukung Pak Jokowi," ungkap Fahri.
"Sekarang temen-temen yang tadinya mendukung Pak Prabowo mendukung Anies Baswedan," imbuhnya.
Menurutnya, anomali-anomali seperti itu yang harus diletakan pada individu para calon presiden.
"Inikan anomali-anomali apabila kita letakan pada individu," katanya.
Sumber: suara
Artikel Terkait
Teddy Indra Wijaya: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri – Naik Tak Wajar atau Buah Kepercayaan?
Gatot Nurmantyo Bongkar Alasan Dipecat Jokowi dari Panglima TNI: Saya Ditendang karena Tidak Nurut
Qodari Resmi Jabat Kepala Bakom: Gaya Komunikasi Pemerintah Berubah Total Jadi Lebih Agresif dan Siap Perang Narasi
Ray Rangkuti Kecam Reshuffle Kelima Prabowo: Cuma Mutasi Figur Lama, Nggak Ada Perubahan Signifikan