Sutoyo juga mengkritisi maraknya politik uang dan korupsi yang semakin mengakar.
Menurutnya, praktik ini tidak hanya merusak sistem demokrasi, tetapi juga melemahkan daya saing Indonesia di tingkat global.
“Kita melihat bagaimana kebijakan yang seharusnya untuk rakyat justru menjadi alat bagi segelintir orang untuk mempertahankan kekuasaan. Ini berbahaya dan harus dihentikan,” tambahnya.
Sementara itu, di media sosial, banyak netizen yang mendukung pernyataan Sutoyo dan menganggap bahwa kajian ini mencerminkan realitas politik yang sedang terjadi.
“Setuju! Indonesia harusnya semakin maju, bukan malah semakin dikuasai oligarki,” tulis seorang pengguna media sosial di platform X (sebelumnya Twitter).
Namun, tidak sedikit pula yang menganggap kritik ini berlebihan dan terlalu tendensius.
Kajian “Macan Asia Dimakan Kodok Solo” menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih kritis dalam melihat arah kebijakan nasional.
Sutoyo Abadi menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dan politik di Asia, asalkan kepemimpinan yang ada benar-benar berpihak pada rakyat dan mengutamakan kepentingan nasional.
“Jika kita tidak segera melakukan perubahan, maka bukan tidak mungkin Indonesia benar-benar kehilangan statusnya sebagai Macan Asia,” tutup Sutoyo.
Sumber: SuaraNasional
Artikel Terkait
Prabowo Dua Periode 2029: Rahasia Kepercayaan Diri Gerindra & Masa Depan Koalisi Tanpa Gibran
Isu Kapolri Membangkang Prabowo: Opini Jahat atau Upaya Sistematis Serang Polri?
Misteri Dukungan Golkar 2029: Strategi Rahasia Bahlil untuk Kuasai Panggung Politik
Prabowo Dua Periode 2029: Cek Ombak Gerindra atau Sinyal Perang Koalisi?