POLHUKAM.ID - Meskipun sempat menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Presiden Joko Widodo ternyata pernah mengakui bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang diraihnya berada di bawah angka 2,00.
Pernyataan mengejutkan itu disampaikan Jokowi sendiri dalam sebuah seminar bertajuk "Memimpin dengan Hati" yang digelar Universitas Islam Indonesia (UII) pada 28 Juni 2013.
Dengan IPK serendah itu, mustahil ia bisa memenuhi syarat kelulusan dari UGM—bahkan untuk standar akademik di tahun 1980-an sekalipun.
Dalam acara yang juga menghadirkan Mahfud MD dan Buya Syafii Maarif itu, Jokowi berseloroh bahwa IPK-nya bahkan tidak mencapai angka dua.
Kala itu, moderator Rosiana Silalahi menggoda para pembicara dengan menyebut Mahfud dan Jokowi sebagai pasangan ideal untuk Pemilu Presiden 2014.
Saat Buya Syafii ditanya siapa yang layak jadi RI 1 dan siapa RI 2, ia menghindar dan menyebut pertanyaan itu jebakan.
Namun ia menekankan bahwa pemimpin ideal bukan dilihat dari gelar atau IPK semata, melainkan integritas dan kepeduliannya pada rakyat.
"Hanya itu ukurannya, IPK 4 bukan indikator," ucap Buya.
Tapi ia menambahkan bahwa IPK ideal sebaiknya tidak di bawah tiga.
Saat giliran Mahfud MD menjawab, ia menyebut IPK-nya dulu 3,8.
Jokowi, yang saat itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, menjawab lebih santai, “Dua saja tidak ada.”
Artikel Terkait
Republik Fufufafa Slank: Bahaya Laten yang Masih Mengendalikan Indonesia Hingga 2029?
Indonesia Kehilangan Peradaban? Ini Analisis Kritis Aktivis Senior Soal Hukum & Moral yang Tergerus
Presiden Prabowo Buka Suara: Menteri Turun ke Bencana, Pencitraan atau Bukti Nyata?
Gus Yahya Tantang Rais Aam: Selesaikan di Muktamar 2026! Ini Kata-Katanya