Serangan ini merupakan bagian dari gelombang serangan yang dilakukan pejuang Hizbullah. Pada 6 Maret, kelompok tersebut melancarkan serangan ke arah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel dan wilayah Haifa, yang mengakibatkan lima tentara Israel luka serius.
Serangan lintas batas ini terjadi setelah jeda selama 15 bulan. Hizbullah menyatakan serangan ini sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku November 2024, ketegangan di wilayah perbatasan kembali memanas.
Posisi dan Kontroversi Bezalel Smotrich
Bezalel Smotrich, menteri dari sayap kanan Israel, dikenal sebagai pendukung serangan militer terhadap Lebanon. Ia menyatakan kampanye militer sebagai upaya untuk mengamankan perbatasan utara Israel secara permanen, dengan merebut zona keamanan di selatan Sungai Litani. Serangan Israel ke Lebanon dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 486 orang, termasuk puluhan anak-anak.
Smotrich juga kerap menuai kontroversi karena pernyataan-pernyataannya yang dianggap rasis. Baru-baru ini, ia meminta maaf kepada Arab Saudi setelah membuat pernyataan yang menghina bahwa Arab Saudi bisa "terus menunggang unta" jika bersikeras mensyaratkan pembentukan negara Palestina untuk normalisasi hubungan dengan Israel.
Pernyataan itu dinilai menghambat diplomasi. Smotrich kemudian mengakui ucapannya tidak pantas dan menyatakan penyesalan: "Pernyataan saya tentang Arab Saudi tidak pantas, dan saya menyesal jika hal itu menyinggung pihak mana pun," ujarnya seperti dikutip dari Anadolu.
Artikel Terkait
Iran Luncurkan Rudal Gelombang ke-31 ke Israel: Apa Dampak Operasi True Promise IV dan Respons AS?
Bingung Akhiri Perang? Bocoran Utusan Trump Soal Konflik AS-Iran yang Makin Meledak
Iran Klaim Kami Penentu Akhir Perang ke AS: Harga Minyak Terguncang, Apa Dampaknya?
Iran Menang Perang? Bukti Mengejutkan AS Tarik Sistem Rudal THAAD dari Korea!