Kegagalan perundingan damai menjadi pemicu utama situasi ini. Wakil Presiden AS yang memimpin delegasi, JD Vance, menyatakan negaranya gagal mencapai kesepakatan dengan Iran setelah negosiasi marathon selama 21 jam.
"Pertanyaannya sederhana, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang, tapi untuk jangka panjang? Kita belum melihatnya," tegas Vance. Ia menambahkan bahwa AS telah memberikan tawaran final dan terbaik, termasuk batasan yang tidak bisa ditawar terkait senjata nuklir, namun Iran menolaknya.
Bantahan dan Tuntutan Iran
Di sisi lain, Iran secara konsisten membantah ingin mengembangkan senjata nuklir. Pemerintah Iran mendesak AS untuk mengizinkannya melanjutkan program pengayaan uranium untuk tujuan sipil, seperti energi, dengan pengawasan badan internasional. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengakui bahwa kedua pihak mencapai kesepahaman dalam beberapa isu, tetapi pandangan mereka berbeda pada dua atau tiga poin penting yang akhirnya menggagalkan perundingan.
Isu-isu kunci yang dibahas, selain nuklir, meliputi keamanan Selat Hormuz, ganti rugi, pencabutan sanksi, serta penyelesaian konflik di kawasan. Kegagalan ini meninggalkan ketidakpastian dan membuka peluang bagi Israel untuk mengambil langkah militer lebih lanjut.
Artikel Terkait
AS Blokade Iran 2026: Apa Dampaknya Bagi Selat Hormuz dan Dunia?
Iran Sindir AS: Nikmati Harga Bensin Sekarang! - Harga Minyak Tembus $100, Ini Pemicunya
Jenderal Uganda Tuntut Rp 17 Triliun & Istri dari Turki: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Gagal Total! Perundingan AS-Iran 21 Jam Bubar Gara-Gara Isu Nuklir Ini