CHPP berbahan bakar minyak juga digunakan di Afrika Selatan, dan porsinya dalam campuran pembangkitan mencapai 1,6% pada tahun 2022.
Reaktor nuklir tetap menjadi sumber energi rendah karbon utama di Afrika Selatan, dan menyumbang 4,7% pembangkit listrik pada tahun 2022.
Menurut IAEA, terdapat dua reaktor yang beroperasi di negara tersebut (pembangkit listrik tenaga nuklir Koeberg) dengan kapasitas bersih keseluruhan sebesar 1,85 GW, yang tersambung ke jaringan listrik pada tahun 1984-1985.
Empat jenis RES berikut juga termasuk dalam sumber energi rendah karbon: pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga surya dan sayap, serta pembangkit listrik tenaga biomassa. Kapasitas kumulatifnya pada akhir tahun 2022 mencapai 10,3 GW, yaitu 9,1% dari bauran energi.
Baca Juga: 87,8% Masyarakat Puas Kinerja Polri, Survei Litbang Kompas: Pengawasan Internal Berjalan Apik
Jumlah sumber energi rendah karbon yang relatif rendah ini menjelaskan fakta bahwa Afrika Selatan tertinggal dibandingkan negara-negara BRICS lainnya dalam hal emisi di sektor energi. Pada tahun 2022, Afrika Selatan rata-rata menghasilkan 708 gram emisi GRK setara CO2 per 1 KW-h, sedangkan di India dan Tiongkok – masing-masing 633 dan 534 gram, dan di Rusia – 364 gram. Brasil adalah pemimpin dalam bidang ini, dimana pangsa sumber energi rendah karbon dalam campuran pembangkitan mencapai 89% pada tahun lalu, sementara volume spesifik emisi GRK menghasilkan 102 gram setara CO2 per 1 KW-h. (LAN)
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: pontianaknews.com
Artikel Terkait
Israel Ancam Bunuh Tokoh Iran Lainnya: Target Baru IDF Terungkap!
Trump Tunda Lagi Serangan ke Iran: Deadline Baru 6 April 2026, Apa Strategi di Balik Perpanjangan 10 Hari Ini?
Israel Hapus 2 Nama Kunci Iran dari Daftar Buruan: Peran Rahasia Pakistan Terungkap
Iran Klaim Tembak Jatuh F-18 AS Senilai Rp1 Triliun: Video Detik-Detik Serangan dan Gelombang Rudal Poros Perlawanan