Kantor DPRD Solo Dibakar, Warga Tionghoa Takut Peristiwa 98 Terulang: Banyak Teman Sampai Sekarang Masih Tidur Bawa Pedang

- Sabtu, 30 Agustus 2025 | 11:40 WIB
Kantor DPRD Solo Dibakar, Warga Tionghoa Takut Peristiwa 98 Terulang: Banyak Teman Sampai Sekarang Masih Tidur Bawa Pedang



POLHUKAM.ID -
  Luka lama kembali terusik. Kota Bengawan yang selama ini dikenal damai mendadak diguncang aksi anarkisme pada Jumat (29/8) malam hingga Sabtu (30/8) dini hari.

Amukan massa yang berujung perusakan fasilitas umum dan pembakaran Kantor DPRD Kota Solo membuat banyak tokoh masyarakat angkat bicara. Mereka menyerukan pesan damai dan mengingatkan agar Solo tidak kembali terjerumus ke dalam kegelapan seperti Mei 1998.

Tokoh Tionghoa Solo, Sumartono Hadinoto, dengan nada prihatin menegaskan bahwa kerusuhan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Menurutnya, aksi anarkisme hanya akan memperburuk keadaan dan membuat masyarakat kecil menjadi korban.

“Ya tentu kami sangat prihatin dengan apa yang terjadi di Solo malam tadi. Semoga ini menjadi yang terakhir, tidak semakin melebar seperti tragedi Mei 1998. Saya mengajak masyarakat Kota Solo, baik yang lahir di Solo maupun yang bekerja di Solo, untuk sama-sama menjaga kondusivitas kembali. Bersama Pemerintah Kota, bersama TNI dan Polri, mari kita jaga. Karena kalau sudah terlanjur seperti dulu, kita semua yang susah. Dan susahnya tidak sehari dua hari,” ujarnya, Sabtu (30/8).

Ia mengingatkan bahwa kerusakan gedung bukanlah dampak terberat. Yang lebih memukul adalah kerugian sosial dan ekonomi.

“Kalau aksi ini meluas, dampaknya sangat luas. Bisa saja tempat kerja menjadi sasaran, lalu pekerja kehilangan pekerjaan. Ekonomi yang sedang sulit bisa makin terpuruk, dan kita akan menghadapi pengangguran lebih besar. Mereka yang melakukan anarkisme ini tidak memikirkan dampak jangka panjang. Karena itu kita, wong Solo, harus segera tanggap, segera sigap. Jangan biarkan Solo terjerumus ke kerusuhan,” tegasnya.

Sebagai saksi hidup tragedi 1998, Sumartono mengaku tahu betul pahitnya luka yang ditinggalkan kerusuhan.

“Recovery Solo itu puluhan tahun. Dulu investor tidak berani masuk. Dampaknya luas sekali. Sampai sekarang, trauma itu masih ada. Saya masih menerima banyak telepon dari luar kota yang menanyakan bagaimana kondisi Solo. Mereka khawatir dengan apa yang terjadi. Jadi mari wong Solo berkontribusi nyata menjaga kota ini tetap damai,” ucapnya.

Lebih jauh, ia bahkan mengungkap sisi personal dari trauma yang belum hilang usai kejadian 98 pecah.

“Banyak teman saya sampai sekarang masih tidur membawa pedang, karena takut sewaktu-waktu anarkisme meluas. Saya sendiri sampai pasang hidran di rumah karena trauma kejadian dulu. Itulah sebabnya saya mohon, jangan sampai Solo diizinkan kembali jatuh ke dalam kerusuhan,” imbuhnya. 

Sumber: jawapos

Komentar